<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598</id><updated>2011-04-22T08:44:22.029+07:00</updated><category term='Sejarah'/><category term='Pendidikan'/><category term='Politik'/><category term='Gerakan Revolusi'/><category term='Jalan-jalan'/><category term='Bahasa'/><category term='Sastra'/><title type='text'>Gontenk's Blog</title><subtitle type='html'>Jika tangan tak cukup untuk melawan? Maka kata adalah senjata!!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-237656508401582860</id><published>2009-04-10T17:01:00.001+07:00</published><updated>2009-04-10T17:05:54.012+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Revolusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>GOLPUT dalam Refleksi Pemilu 2009</title><content type='html'>Pemilu 2009. 090409.&lt;br /&gt;Tidak ada pembukaan indah pada di awal tulisan ini. Sedih, prihatin, emosional, dan pasrah. Pemilu mulai berjalan tahun 1955 hingga 2004 masih menyiksakan tanda tanya. Apakah pemilu -pemilu yang diadakan dahulu memanglah jurdil, tanpa ancaman dan paksaan, sedang bersih? Lalu bagaimana dengan pemilu 2009 sekarang, apakah akan tetap sama dengan pemilu sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahit. Demokrasi menjadi hina di tanah pertiwi. Ia telah diperkosa oleh segelintir kelompok yang mengatasnamakan keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Dan darahnya sendiri diminum layaknya seperti anjing oleh orang - orang yang mendongeng tentang negeri impian. Lalu kita masih saja diam melihat tingkah laku mereka. Memang lucu, saya sendiri sempat tertawa melihat tingkah laku mereka. Bersolek di depan layar kaca, bermanis muka pada kaum proletar, petani, bahkan janda-janda tentara. Tangan-tangan mereka dihias sehingga menyerupai tangan Tuhan, di mana nasib kita seakan bisa berubah jika dirangkulnya.Pada demokrasi, aku titipkan setangkai mawar dan melati, ku harap kau kan hidup kembali pada anak cucuku yang menghargai sejarah negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan pemerintahan sekarang tak hayal adalah buah hasil dari pemilu tahun 2004. Di mana menghasilkan pemimpin yang plin-plan, egois, dan tertutup. Pemilu yang menghasilkan koalisi yang porsinya seakan sudah dipesan jauh sejak pra-pemilu. Penetapan wakil-wakil berdasarkan pesanan rekanan kelompok karena telah mendukung. Hingga apa yang terjadi sekarang, kebijakan yang dihasilkan juga berdasarkan pesanan dari kelompok-kelompok itu juga. Reshuffle beberapa jajaran wakil pun hanyalah rotasi dan penjegalan karena sudah keluar dari aturan main yang ditetapkan mereka. Azab telah datang, tsunami dan lumpur lampindo masih saja menyiksakan masalah. Jika kita tilik ke Aceh, masih ada beberapa keluarga yang masih tinggal pada tempat-tempat semipermanen, bertenda-tenda, atau papan-papan kayu. Lalu lumpur lapindo, bencana nasional yang telah berusia 2 setengah tahunan di daerah Sidoarjo menyisakan puluhan keluarga yang harus rela mondar-mandir mencari bantuan, demo ke sana ke mari, menuntut hak atas kesejahteraan mereka. Padahal salah satu menteri yang bertanggung jawab atas bencana nasional ini adalah salah satu anggota keluarga pemilik PT. Lapindo Berantas Tbk. Sayang, lagi-lagi pemimpin kita sekarang tidak memiliki rasa malu. Belum pernah kita mendengar para pemimpin  yang mau MEMINTA MAAF dengan setulus-tulusnya kepada RAKYAT INDONESIA atas kedua bencana ini. Malah melempar-lempar kesalahan dan menutupinya. Jijik rasanya untuk dilihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki ke pemerintahan yang baru. Para elit politik seakan berbondong-bondong mengikuti audisi menyanyi sebuah stasiun televisi, berlomba mempercantik diri dihadapan rakyat. Mereka yang telah merasakan nikmat duduk di kursi empuk dengan gaji yang standar NAMUN dengan tunjangan yang berlipat-lipat jumlahnya tak ingin kehilangan itu semua. Mungkin saja utang-utang mereka pada pemilu 2004 belumlah lunas atau mereka belum mendapatkan benefit yang dipandangnya belum cukup untuk saat ini. Dari elit politik tingkat teri hingga tingkat mucikari, mulai mencari kendaraan-kendaraan politiknya kembali. Ada yang masih setia dengan kelompoknya. Atau ada yang merasa kurang puas karena persaingan atau lain hal maka mencari yang baru. Senayan seakan libur beberapa bulan terakhir. Mereka kembali ke tanah ibu mereka mencari massa, mencari dukungan. Pemerintah sekarang sama halnya dengan pemerintahan Perancis pada masa Louis XIV, pemerintahan sekarang sedang mengalami yang namanya VACUUM OF POWER. Lembaga setingkat legislatif dan eksekutif dari tingkat provinsi hingga presiden sedang safari menggunakan sebagian fasilitas negara mengampanyekan dirinya dan kelompoknya. Untung tidak adanya chaos yang begitu besar melanda ibukota. Karena bisa dibayangkan jika memang timbul chaos yang besar dan menuntut adanya pemimpin yang bertanggung jawab, sedang mereka pergi cuti ke daerah-daerah, bisa dipastikan Senayan dan Istana dapat di duduki dengan leluasa. Pahlawanku saatnya engkau bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye 2009 terbuka dimulai dengan aksi kampanye damai yang motori KPU malah berisikan pertandingan tinju antar anggota sebuah parpol. Menarik, selain para caleg memiliki prasyarat pintar dalam orasi politik ternyata mereka juga harus pintar dalam adu jotos. Mungkin bisa jadi usulan kepada KONI di pekan olah raga nasional menambah satu cabang baru yaitu olahraga tinju legislatif. Lucu sekali. Kampanye. Jika kita tengok dari masanya orde baru hingga sekarang tidak banyak berubah. Yang terlihat berbeda jelas adalah kuantitas massanya saja. Dulu untuk sebuah parpol bisa sangat banyak sekali karena hanya tiga parpol dan sekarang massa berkurang karena terbagi dalam 38 parpol. Saya pikir yang mengikuti kampanye tidaklah semua yang loyal pada partai yang diikutinya. Alasan saya yang pertama adalah mereka mengikuti karena dorongan teman satu profesi dengannya atau dengan kata lain mengikuti tren teman sejawatnya. Alasan yang kedua adalah iming-iming yang diberikan pihak panitia dalam bentuk uang atau doorprize (bentuk halus dari money politic) setelah acara kampanye. Salah satu contoh yang menarik adalah pembakaran bendera demokrat oleh para peserta kampanye karena batalnya pembagian doorprize yang berujung penyitaan truk pengangkut hadiah doorprize oleh peserta kampanye. Atau kisruhnya kampanye PKS di Maluku pada masa awal kampanye karena tidak meratanya pembagian snack oleh panitia. Saya pikir bentuk kampanye terbuka tidak memberikan efek yang terlalu besar bagi sebuah parpol. Karena kita tidak bisa membedakan mana peserta yang loyal kepada partainya dan yang tidak loyal. Adu besarnya massa antar partai bukan menjadi cermin bahwa yang besar itu besok yang menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan semakin besarnya massa, potensi pelanggaran kampanye sendiri semakin besar. Kita bisa lihat anak-anak dieksploitasi untuk ikut terjun ke jalan, berjingkrak-jingkrak dengan bapaknya atau kakak-kakak mereka. Dirangkul ibunya berpanas-panas mendengar ceramah yang belum pasti ia tahu apa artinya, ikut bertepuk tangan, mendapat balon sebagai hadiah. Bahkan sampai ikut goyang dan melihat tingkah penyanyi dangdut yang senonok. Pedih, perih, dan prihatin. Anak-anak masuk dalam kategori bukan pemilih harus ikut-ikutan menyemarakan pesta semu ini. Yang saya khawatirkan adalah si anak dapat menyerap apa yang mereka lihat dan rasakan sehingga memicu dirinya dapat mengidentifikasikan dirinya sejak kecil dengan partai. Tetapi hati saya sedikit terobati dengan adanya foto seorang anak berseragam sekolah mengangkat kertas yang bertuliskan "JANGAN BAWA AKU KAMPANYE, BU".Pelanggaran kedua adalah pelanggaran lalu lintas. Tanpa helm, berknalpot blombongan, berboncengan tiga orang atau lebih, dan memakai artibut berlebihan yang membahayakan pengendara lain, hingga tidak mematuhi rambu-rambu jalan. Seakan-akan jalan yang digunakan kampanye adalah jalan milik partainya sendiri. Padahal jalan itu walau sudah rusak, tetap saja menggunakan uang rakyat bukan uang partai. Sangat disayangkan juga, beberapa waktu yang lalu saya yang pertama melihat partai yang baik sopan satun dan kadernya berakhlak mulia semua, ternyata massa yang berkampanye masih tetap juga melakukan pelanggaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran diluar kampanye adalah bentuk money politic. Karena yang bersaing bukan saja partai tetapi juga caleg dalam dan luar partai sendiri. Uang, siapa sih yang tidak mau uang? Dari kyai-kyai sampai para pelacur semua mau jika diberi uang. Dan untuk apa uang dibagi jika bukan untuk memilih siapa yang membagikan. Dan money politic sendiri sekarang telah bergeser ke tren baru yaitu dalam bentuk doorprize. Tapi yang sangat disayangkan adalah seperti pada kampanye PAN di Pulau Buton. Saat kampanye berlangsung diadakan pembagian uang, tidak tanggung-tanggung nilainya yaitu Rp 50.000,00. Jumlah satuan yang terlampau tinggi. Uang itu dilempar satu persatu kepada para peserta dan simpatisan, sehingga mereka layaknya anjing-anjing rabies berebut uang dengan sesamanya.Huh. Namun saya salut dengan beberapa warga di daerah Sleman, Yogyakarta, mereka secara terang-terangan menolak uang yang diberikan atas nama apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang menuju ke KPU. Saya pribadi menilai KPU sekarang lebih PRIMITIF daripada KPU tahun 2004. KPU sekarang lebih terkesan tidak informatif dan menutup diri. Ada yang membuat saya heran tentang KPU, yaitu pengalokasian dana untuk menyortiran DPT(Daftar Pemilih Tetap) yang saya dengar dana tersebut hingga mencapai nominal tiga trilliun rupiah. Hebat sekali. Jika itu benar adanya maka dana tersebut berpuluh kali lebih banyak dari dana saat KPU 2004. Dan dengan dana sebesar itu semestinya akan didapatkan data yang seakurat mungkin. Tetapi apa yang kita lihat dan dengar di televisi adanya permasalahan DPT ganda dan yang belum terdaftar sebagai DPT jumlahnya ratusan ribu orang seluruh Indonesia. Bahkan masalah ini menjadi problem hingga H-1 pemilu. Daftar DPT adalah hal pokok terpenting dari pelaksanaan pemilu. Keakuratan data diperlukan karena ini menentukan jumlah logistik kartu suara tiap daerah. Lalu yang dipertanyakan dana itu untuk apa aja sih kok tidak bisa menghasilkan data yang akurat, seakan-akan KPU hanya mengambil data yang ada di tiap pemerintahan tingkat kelurahan dengan tidak memverifikasi kembali ke lapangan. Ke depannya, di sinilah peran pemerintah untuk menjadikan sistem administrasi yang transparan, fleksibel, dan up to date sehingga tidak terjadi lagi adanya DPT ganda dan yang belum terdaftar. Karena data ini juga bukan hanya untuk pemilu, tetapi juga untuk kegiatan pemerintahan yang lain. Keheranan yang kedua adalah tentang perencanaan yang telah matang yang telah dilakukan oleh tim IT KPU ditolak mentah-mentah oleh Ketua KPU tanpa menyebutkan alasannya dan malah membuat persetujuan dengan instansi pemerintah yaitu BPPT. Saya pikir langkah ini sungguh diluar dugaan dan mengecewakan. Karena tim IT KPU sendiri merupakan tim ahli dibidangnya akan tetapi dikebiri dengan MoU oleh BPPT dengan perencanaan teknologi yang seadanya karena keterbatasan waktu. Logistik juga menjadi gosip di media massa. Masalah ini sendiri menurut saya adalah sebagian dari buah hasil kesalahan  penetapan DPT. KPU Pusat sebagai sentral menerima data jauh hari sebelum pemilu diberikan data yang tak up to date. Sehingga kuantitas kertas kertas suara menjadi begitu minim. Di sini KPU tidak mempunyai ketegasan, KPU masih saja mau menerima permintaan penambahan surat suara dengan kuantitas tiap daerah yang tidaklah banyak tetapi ini sangat merepotkan. Lain hal adalah kondisi surat suara itu sendiri, harga tender yang begitu ditekan menyebabkan hasil kertas surat suara tidaklah sempurna. Banyak sekali kesalahan seperti semprotan tinta yang menutupi gambar atau tulisan, terdapatnya lubang dalam surat suara, hingga proses pelipatan yang dapat menyebabkan kertas suara dianggap tidak sah. Sidak yang dilakukan KPU sendiri tidak menjamin meningkatkan kualitas surat suara. Mengenaskan, di salah satu kota di Jawa Tengah, angggota KPU menugasi salah satu SMK agar muridnya dapat membantu melipat kertas surat suara karena kurangnya SDM dan dana dari KPU. Ironis, sangat tidak profesional, dan mencoreng dunia pendidikan yang independent. Mungkin terkait permasalahan yang ada disekitar KPU dapat diselidiki oleh KPK setelah terlaksananya pesta semu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup tulisan ini akan membahas tentang GOLPUT. Menurut penulis golput dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu golput administratif, golput teknis, dan golput ideologi. Golput administratif adalah golput yang tidak disengaja karena faktor tidak tercantum dalam daftar DPT, ini terjadi pada pemilih pemula dan pemilih yang meninggalkan daerahnya. Sedangkan golput teknis dilakukan oleh para pemilih karena kurangnya informasi sehingga suara yang sebenarnya sah pada surat suara menjadi dianggap tidak sah. Golput teknis sendiri terjadi pada para pemilih pemula dan orang tua yang tidak rajin mendengarkan informasi. Terakhir adalah golput ideologi, ini dilakukan karena memang pemilih KURANG YAKIN DENGAN CALEG SEKALIGUS PARTAI sehingga dengan sengaja membuat suaranya tidak sah. Golput sebenarnya telah diprediksi akan mencapai 40% dari total suara. Sehingga timbul apa yang dinamakan FATWA HARAM MUI tentang GOLPUT. Seakan-akan MUI didesak oleh beberapa pihak yang ketakutan terjadinya golput. Sungguh sangat disayangkan, fatwa ini seperti dipolitisi. Jika kelompok atau partai menyuruh kita tidak GOLPUT tetapi mereka tidak bisa merubah sikap mereka yang seperti anjing-anjing liar itu. Karena anggapan saya golput sendiri merupakan wakil dari suara pemilih. Mereka memilih golput karena melihat tingkah laku caleg, partai dan DPR sebelumnya tidak akan merubah kondisi Indonesia ke arah lebih baik. Jika memang ada partai yang mengiklankan di bahwa partai itu bersih dan peduli. Akan tetapi mereka masih saja membiarkan atributnya terpasang dan kader-kadernya berkampanye personal dihari tenang. Menurut saya kampanye personal yang mengatasnamakan kader atau bukan di masa tenang pemilu tetap saja merupakan kampanye terselubung dan harus dibumihanguskan. Mereka tetap saja akan mencuci otak dengan tulisan atau perkataan yang manis walaupun mereka tidak mengatasnamakan sebagai kader melainkan sekedar simpatisan. Mereka telah merusak citra partai yang diusung mereka sendiri. Saya sangat pesimis, ke arah mana politik Indonesia ini mengalir dan bagaimana cara yang terbaik mendidik tingkah laku mereka yang berpolitik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan GOLPUT telah dianggap sebagai sesuatu yang berlebihan. Memang prediksi yang muncul jumlahnya akan lebih banyak dari tahun 2004. Mereka yang berpolitik dan bercaleg menganggap GOLPUT akan menyebabkan chaos yang setingkat dengan yang terjadi di tahun 1998. Saya pikir orang yang akan golput secara murni adalah orang-orang yang pasif, orang-orang yang berpikir, bukan orang-orang yang anarkis seperti orang kampanye dijalan. Bahkan jika memang terjadi chaos, justru disebabkan oleh orang-orang yang kalah dalam pemilu itu sendiri, mereka akan mengadu domba dan menyalahkan orang lain. Golput adalah refleksi akan peringatan dari rakyat bahwa rakyat butuh sesuatu perubahan, butuh keharmonisan, dan butuh seseorang yang mengerti akan nasibnya. Mereka telah bosan melihat sirkus politik senayan. Tetapi mengapa harus golput, barangkali saya akan menjawab sebisa saya. Jika memang golput akan melanda pemilu kali ini dengan persentase yang besar maka orang-orang yang menghabiskan uangnya dalam adu tampil sebagai caleg dan partai akan merasa rugi. Kita bisa lihat bagaimana sikap mereka dengan hasil golput ini, di sini kita melihat originalitas sikap mereka. Jika mereka menyalahkan dan bersikap antipati dengan hasil sehingga timbul chaos maka pemilu sekarang tak ada bedanya dengan pemilu sebelumnya. Kita dapat menyeleksi dari sikap mereka, kita lihat orang-orang yang masih bisa bertahan di masa itu. Itulah orang-orang yang seharusnya kita pilih kelak jika diadakan pemilu ulang. Golput juga sebagai jawaban akan kinerja KPU sebagai pelaksana pemilu yang tidak mau menyalahkan diri sendiri, melempar-lempar kesalahan(terlihat dari masalah DPT) kepada pihak lain. Juga golput sendiri merupakan rasa kecewa dengan sistem kepartaian. Partai masih saja menghalalkan segala cara hingga sekarang saat tulisan ini buat pagi sebelum hari H pemilu 2009 dimulai ada dua sms yang saya terima yang intinya bertuliskan menyukseskan pemilu tetapi dibelakangnya ditambahi embel-embel sebuah partai dan calegnya. Astagfirullah. Saya sangat kecewa dengan tindakan-tindakan seperti ini. Saya ingin melihat satu partai yang bersih, tanpa unsur anarkis, peduli, dan berbuat yang baik namun sayang itu seakan sebuah mimpi yang sulit dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini bukan sebuah bentuk persuasif untuk golput, karena secara teknis artikel ini akan saya muat setelah pemilu berlangsung. Tetapi ini sebuah renungan bagaimana merubah sikap kita yang terdiferensiasi  kepartaian agar merubah sikapnya yang egois dan primordialis menjadi integritas yang dapat menyatukan bangsa. Kita tidak butuh para politisi karena yang kita butuhkan seorang patriot dan negarawan yang akan menjaga dan merubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Golput bukan merupakan ketakutan, tetapi golput juga merupakan aspirasi untuk merubah Indonesia. Apapun pilihhan Anda pastikan yang Anda pilih akan merubah Indonesia ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;THROUGH HEART TO VOTE !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, 09.04.09.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-237656508401582860?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/237656508401582860/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=237656508401582860' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/237656508401582860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/237656508401582860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2009/04/golput-dalam-refleksi-pemilu-2009.html' title='GOLPUT dalam Refleksi Pemilu 2009'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-7294791429726930644</id><published>2009-04-10T16:59:00.000+07:00</published><updated>2009-04-10T17:01:03.960+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>Mozaik doa bagi dua bongkah liat</title><content type='html'>--Hingga tanah yang merah menyisir jenuh. Tak ada tenda membiru, kerumunan menjadi kosong sehembus angin, hangat. Di antara dua bongkah liat, bocah tengik lusuh layu, hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Suara-suara surga menjahit langit. Terucap salam harapan dari kerumunan akan keridhoan. Namun dia, bocah tengik lusuh layu, berbeku rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--"Tunggu aku Bunda, meski neraka jalanku dahulu!", terhusap papan kayu bongkahan liat. Bocah tengik berdiri tegak menantang mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--"Mereka, keduanya, mati dalam agamaMu, Tuhan, bukan yang lain. Tiada nista diantaranya. Aku, sekarang, yatim pula piatu. Demi apa yang Engkau gariskan padaku, lapangkan kubur bagi mereka. Pada surga berkelok sungaiMu, abadikan mereka padanya." menatap tajam dua gunduk liat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--"Dan Bunda, aku ingin dewasa!!" Edelwise mengabu sebagian sisi menghias indah liat. Lari dia, jauh, untuk edelwise yang terjatuh. Tak lagi asing bagi kerumunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Matahari jenuh melingkar bumi, merah saga. Bukan henti yang bocah tengik cari namun zenit dari tubuhnya. "Tuhan, aku ingin dewasa!", menguap teriak bocah tengik terbawa angin darat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-7294791429726930644?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/7294791429726930644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=7294791429726930644' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/7294791429726930644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/7294791429726930644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2009/04/mozaik-doa-bagi-dua-bongkah-liat.html' title='Mozaik doa bagi dua bongkah liat'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-8985394694696171553</id><published>2009-02-15T15:16:00.000+07:00</published><updated>2009-02-15T15:17:50.267+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>Mozaik bocah bertelanjang dada</title><content type='html'>-- Untuk semua coretan atas nama persekutuan pada tembok, dia, si bocah tengik, menuntun tangannya mendekap dada, rasa sesak menghujam jantung dan sebentar lagi dari vena akan menjejal darah hitam. Hujan dari jam 5 sore tak lelah membusur pertiwi. "Huhs. . .huhs . . .huhs . .huhs", setiap hempasan pajang menghalau beku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Tersudut, menggigil, "Tuhan, jika kau turunkan pula salju malam ini, aku akan siap, aku siap . . ., hatiku lebihlah dingin dari saljuMu", menyempitkan lagi kedua tangan pada dada. Bagi putra alam, hujan kali ini, sekian kali lebih menghinanya. Yang telah basah akan kembali basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Selurus tembok beribu nama, 2 bocah melebihi lusuh namun tak melebihi tengik, " Tuhan, hentikan hujan, kami lelah menunggu reda, atau kalau tidak berikan yang lebih hangat daripada kardus basah ini,", pelan, khidmat, persuasif terucap dari tertua. Perisai hujannya telah menyatakan kalah, namun kantuk tiada berkomplot dengan dingin menyeruak menyerang bertubi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- "Aku bukan Tuhan, bukan pula malaikat," melepas kaus tertempel badan mengambil sebungkus alumunium voil ," . . . ini yang ku punya, lebih hangat dari kardus basah dan ini, sisa coklat, hangatkan mulut dan perutmu!!"&lt;br /&gt; "Lalu . . ."&lt;br /&gt; "Diam, aku dengar doa kalian, aku telah bersaksi kepada Tuhan bahwa aku akan siap meskipun ini salju!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Pulang sudah bocah tengik bertelanjang dada. Mencoba tegak bahkan tegap dibalik sayu-sayu lampu lima watt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Terdengar lirih suara-suara surga, namun mendekat keraslah sudah. "Apaan ini, di rumahku, apa yang mereka tunggu dari rumahku," kencang ingin dia berlari kencang menjawab nafsunya. Berhenti, tepat berhenti, pada bendera berlambang suci, garis terdepan bangku-bangku plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- "Singkirkan tanganmu, aku kotor buat kalian yang bersih, kenapa kalian ke sini? kenapa juga kalian tangisi kedatanganku?", menyingkarkan tangan mencoba memasuki rumahnya. Satu peti mati terbujur pada tengah ruang dikelilingi pelayat berkerudung hitam, setumpuk buku Yasiin. Beku, mulutnya melebihi beku, matanya lebih lebam merah, ini bukan tangis. Langkah berat bocah tengik mengagetkan pelayat. Berhenti sudah suara-suara surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- "Kembali kau . . .," tangannya menyela seorang pelayat sekaligus paman si Tengik. "Diam! aku ingin tenang disamping Ibundaku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Tak ada air mata, hanya mata lebam seluruh merah, bukan dingin menyelimut, hanya hangat dari dada. Menyisir ruas-ruas rambut, membelai pipi hingga bibir, mencari kehangatan terakhir dari Ibunda. &lt;br /&gt;  " Sejak kematian Ayah, aku berjanji takkan lagi menangis, Ibunda aku ingin menjadi dewasa, takkan aku tangisi kepergian Ibunda!", mendekap lebih dalam tangan Ibunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Berlari sudah bocah tengik keluar jauh semakin jauh dari rumah. Maka hujan lebihlah keras, pada dada telanjang tetaplah berlari. Seluruhnya gelap, pada bukit itu, semua tetaplah hitam. " Tuhan, aku datang pada tempat yang paling tinggi dari yang tinggi hanya ingin Engkau menepati janjiku ini, . . .", keras lantang, menahan ribuan lelah,"  . . . aku yang telah Engkau buat diriku sebagai yatim piatu sekarang, tempatkanlah Ibundaku, Ibunda yang aku cintai, tempat terindah dari yang terindah dari yang Engkau miliki, surga para NabiMu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- Suara-suara mengesakan Tuhan, sahut-menyahut. Kedamaian shubuh, menahan hujan kali ini berhenti. Diam, dia diam, mencoba menerka jawaban atas Tuhan. Diam dari seribu gerak hingga fajar menyingsir, hangat untuk mata yang lebam merah. Perlahan terlihat hamparan Edelwise bermandikan kilauan mentari. Bocah itu tersenyum. "Setangkai Edelwise, kuberikan kepada Ibunda, dariku sebagai penghormatan terakhir", lirih terdengar dari mulut bocah tengik bertelanjang dada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-8985394694696171553?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/8985394694696171553/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=8985394694696171553' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/8985394694696171553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/8985394694696171553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2009/02/mozaik-bocah-bertelanjang-dada.html' title='Mozaik bocah bertelanjang dada'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-3648531612691676699</id><published>2009-02-08T14:04:00.000+07:00</published><updated>2009-02-08T14:05:08.474+07:00</updated><title type='text'>Mozaik pukul 5</title><content type='html'>--dari sekumpulan anjing, aku berdiri diantara pangkal tiang listrik. Menunggu mendung yang aku dapat kabar dari Tuhan  akan datang sore ini pukul 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--16.13 sudut kanan bawah layar hpku terukir, "2820 detik, aku telah menghitungnya, 2820 detik", membanting hp dilubang kantong kiri jeans lusuh. Terhitung detik menuju menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Mawarku hitam di segala rupa, yang ku bawa, telah mati dari bumi. Tidak ada lagi mawar bagi hujan, tidak lagi ada merah dalam darah lembam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--yang kutahu bau menyengat ini bukan dari tong2 sampah yang aku duduki bersama anjing-anjing kurang gizi ini. Arah jam 5, menggebu asap dari toko seberang, toko milik Kong Hook Kian, " Ini bukan mendung yang ku inginkan!" melesat sudah ribuan ton asap yang terpaksa angin tuk dibawanya. " Kasihan kau",.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--16.47, " Sial, siapa yang menyulut asap? aku sedang menunggu mendung!! Tak tahu aku mana mendung mana asap!! Tuhan, wahai Tuhan, mana mendung yang aku inginkan!!", aku berdiri, 3-4 anjing kaget dengan gerakan ku,. . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Sebagian dari anjing menyahut dan mengendus, ku tahu anjing-anjing ini akan mendapatkannya. Air, tetesan air, ini hujan bukan mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--"Sial, kenapa hujan bukan mendung! Siapa yang memesan hujan kepada Tuhan?! Aku sendiri memesan mendung?! Tuhan, mana mendung yang ku inginkan, bahkan yang ada asap dari kayu-kayu Kong Hook Koian. . .", aku masih tetap berdiri dari tong-tong sampah berkerumun anjing, " . . . Tuhan, aku telah basah kuyup. . . aku telah basah dari hujan yang Kau turunkan. . . Untuk siapa hujan ini Kau buat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Gonggongan anjing, tidak membuat lebih merasa kaget. Semua anjing telah turun ke darat, menjilat-jilat air tampungan beton. Jantungku membeku sepersekian detik, dari arah rumah Kong Hook Kian, asap mulai lama menitih lesu. Terhunus ribuan tetes hujan. Yang kutahu merah kuning menjadi abu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--16.58 "Tuhan, maafkan diriku yang telah menuduh Engkau, hujan sore hampir pukul 5, kau buat bukan hanya untuk anjing-anjing yang kehausan dan juga pula bukan untuk meremukkan asap rumah Kong Hook Kian tetapi juga untuk diriku. Telah kau sadarkan keegoisanku sore ini. Ku berikan ini tanda terima kasihku. . ."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Setangkai mawar hitam tergeletak diatas penutup-penutup tong sampah. Salam penghormatan terakhir diberikan bocah tengik itu yang merindukan mendung. Pualng ia bersama hujan tepat pukul 5 sore.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-3648531612691676699?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/3648531612691676699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=3648531612691676699' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3648531612691676699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3648531612691676699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2009/02/mozaik-pukul-5.html' title='Mozaik pukul 5'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-5911559167205418195</id><published>2008-09-14T15:11:00.002+07:00</published><updated>2008-09-14T15:20:45.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Santri keci;</title><content type='html'>empat bocah kecil&lt;br /&gt;rona gembira di rupa demikian&lt;br /&gt;berlari kecil dalam batas sarung&lt;br /&gt;suci dalam kupluk putih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-5911559167205418195?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/5911559167205418195/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=5911559167205418195' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5911559167205418195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5911559167205418195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/09/santri-keci.html' title='Santri keci;'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1387901940659323441</id><published>2008-09-14T14:45:00.003+07:00</published><updated>2008-09-14T14:56:46.170+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Panen sang Nenek</title><content type='html'>Mungkin kerutnya telah bertambah&lt;br /&gt;samar-samar menatap bulir-bulir kecoklatan&lt;br /&gt;dipilih cekatan warna-warna kusam dan kerikil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tersisa senyum manis di bibir&lt;br /&gt;bersama pipi bergaris-garis tajam&lt;br /&gt;semua yang hitam telah saatnya putih&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1387901940659323441?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1387901940659323441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1387901940659323441' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1387901940659323441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1387901940659323441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/09/panen-sang-nenek.html' title='Panen sang Nenek'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1584140514013381387</id><published>2008-09-08T21:12:00.002+07:00</published><updated>2008-09-08T21:50:44.964+07:00</updated><title type='text'>dua lelaki diperempatan jalan</title><content type='html'>Ku berhenti pada perempatan dengan traffic yang terkenal padatnya. Saat itu merah menyala keras. Dua lelaki kecil, menggunakan kaos lusuh dan celana panjang lusuh juga, dan yang satu lagi mengunakan baret hijau dimana salah satu sudutnya berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang lelaki kecil pertama itu ke pengandara sampingku lalu berjalan ke arahku. Selembar kertas putih tertempel di kerdus kecil yang tidak salah bertuliskan "untuk buka puasa ramadhan". Ia sodorkan dengan rona wajah memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woi, jangan pergi jauh-jauh, tadi ada satpol-pp!", bocah kecil itu teriak ke lelaki kecil berbaret, saat akan menyodorkan kardus itu kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhenyuh dada yang penuh asap cigaret ini. Ada rasa ganjal diperasaanku. Timbul satu pertanyaan,"Inilah kerasnya dunia, yang telah mendewasakan pikiran seorang bocah kecil akan kerasnya hidup di jalanan." Bocah itu seakan telah akrab dengan hukum yang tidak berkeadilan dengan nasibnya. Sudah mengerti mana itu petugas mana itu manusia biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah Indonesia, yang telah merampas hak-hak bocah2 untuk hidup dalam selimut kedua orang tuanya dalam malam, bermain dan berlajar saat esok hingga senja. Saat norma-norma teoritis yang seharusnya diberikan kepada mereka, agar kelak generasinya menjadi generasi pencerahan untuk Indonesia yang dapat saling enghargai arti kehidupan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1584140514013381387?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1584140514013381387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1584140514013381387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1584140514013381387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1584140514013381387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/09/dua-lelaki-diperempatan-jalan.html' title='dua lelaki diperempatan jalan'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-14497904219913816</id><published>2008-07-11T06:51:00.001+07:00</published><updated>2008-07-11T06:51:34.131+07:00</updated><title type='text'>Kontes anjing</title><content type='html'>30an anjing berjajar rapi&lt;br /&gt;Duduk tenang terlihat wibawa&lt;br /&gt;Puluhan heineken menghias meja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor kera membawa toples mengitari anjing anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'ambil satu - satu jangan berebut'&lt;br /&gt;Kera menyodorkan toples setiap moncong anjing&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yg mengaung setelah membuka kertas dr toples&lt;br /&gt;Ada yg bersikap biasa karena untuknya kontes pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara bergulir&lt;br /&gt;Anjing - anjing maju bergiliran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kontes pun berlalu kemudian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-14497904219913816?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/14497904219913816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=14497904219913816' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/14497904219913816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/14497904219913816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/07/kontes-anjing.html' title='Kontes anjing'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-9083847552079045447</id><published>2008-06-13T20:20:00.001+07:00</published><updated>2008-06-13T20:20:10.984+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Frame I</title><content type='html'>Dalam frame&lt;br /&gt;Berjajar rapi&lt;br /&gt;Badut-badut&lt;br /&gt;Serupa namun tak sama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyum&lt;br /&gt;Tersipu mimik&lt;br /&gt;Dosa dlm frame &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhias&lt;br /&gt;Di sudut-sudutnya&lt;br /&gt;Ukiran dewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhapus&lt;br /&gt;Warna sekaligus&lt;br /&gt;Dosanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat kaku di setiap masa . . .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-9083847552079045447?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/9083847552079045447/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=9083847552079045447' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/9083847552079045447'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/9083847552079045447'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/06/frame-i.html' title='Frame I'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-9025794126059539646</id><published>2008-06-12T21:56:00.002+07:00</published><updated>2008-09-14T14:45:46.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'></title><content type='html'>Saat mata telah lelah melihat&lt;br /&gt;Saat telinga tak lagi mendengar sayu kali code&lt;br /&gt;Aku masih mencoba berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, raga menua&lt;br /&gt;Mana yg kau sebut otot perkasa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-9025794126059539646?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/9025794126059539646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=9025794126059539646' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/9025794126059539646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/9025794126059539646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/06/saat-mata-telah-lelah-melihat-saat.html' title=''/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-5294031830470004284</id><published>2008-05-05T16:29:00.000+07:00</published><updated>2008-05-05T16:30:29.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kata untuk intelektual</title><content type='html'>&lt;em&gt;Di Hindia ini, tuan, sejauh kuperhatikan, begitu seorang terpelajar mendapat jabatan dalam dinas Gubermen, dia berhenti sebagai terpelajar. Kontan dia ditelan oleh mentalitas umum priyayi: beku, rakus, gila hormat dan korup.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Pramoednya Ananta Toer)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-5294031830470004284?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/5294031830470004284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=5294031830470004284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5294031830470004284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5294031830470004284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/05/kata-untuk-intelektual.html' title='Kata untuk intelektual'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-2892636727460171416</id><published>2008-05-01T17:19:00.003+07:00</published><updated>2008-05-01T18:24:18.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Revolusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>May Day untuk buruh Kami mendukungmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_oGHKWITyd-o/SBmZt-QMdXI/AAAAAAAAAA0/75H040_Bd2w/s1600-h/111002p.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_oGHKWITyd-o/SBmZt-QMdXI/AAAAAAAAAA0/75H040_Bd2w/s320/111002p.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195352660232664434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;                                                                                                                                  &lt;span style="font-family: arial;font-size:78%;" &gt;www.kompas.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;untukmu yang sekarang sedang berjuang&lt;br /&gt;keringatmu tak akan sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kini pecundang, sedang berdoa&lt;br /&gt;menutup muka dan menghilang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kita berjuang buat untuk diri kita&lt;br /&gt;bukan yang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;siapa yang kau sebut rakyat&lt;br /&gt;kami &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;buruh&lt;/span&gt; juga rakyatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;pemodal adalah penjajah&lt;br /&gt;yang telah rusak ekonomi kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mana yang kau sebut HAM&lt;br /&gt;yang katanya kau agung-agungkn&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami tertindas Tuan, kami tertindas . . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk kami upah tak lagi cukup&lt;br /&gt;kami tak kuat . . .&lt;br /&gt;tak lagi ada harta yang kami gadai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu Tuan, kami kerja penuh keringat&lt;br /&gt;sekali salah, ancaman PHK menanti&lt;br /&gt;Kau tahu terkadang raga kami hancur . . .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidatomu tadi malam Tuan&lt;br /&gt;hanya omong kosong&lt;br /&gt;Kau takut-takuti kami&lt;br /&gt;berdongeng tentang dunia panjang lebar&lt;br /&gt;tanpa titik temu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpan hartamu Tuan&lt;br /&gt;sebelum langkah kami masuk ke istanamu&lt;br /&gt;Kunci rapat kantormu&lt;br /&gt;sebelum pecahan kacah jatuh ke dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih bisa tahan, dan Kau Tuan masih bersembunyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-2892636727460171416?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/2892636727460171416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=2892636727460171416' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2892636727460171416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2892636727460171416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/05/may-day-untuk-buruh-kami-mendukungmu.html' title='May Day untuk buruh Kami mendukungmu'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_oGHKWITyd-o/SBmZt-QMdXI/AAAAAAAAAA0/75H040_Bd2w/s72-c/111002p.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-7301584036538641604</id><published>2008-04-28T21:12:00.001+07:00</published><updated>2008-04-28T21:21:53.202+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>aBsTrAk II</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Otakku sekali lagi berputar. Seperti dulu, bahkan sekarang aku rasa lebih gawat, seperti dalam penyakit sudah pada tingkat stadium menurutku. Kau tahu, aku selalu salah mengetik, jari-jariku seakan kaku dan berat tuk digerakkan. Sudah berapa kali ku baca ulang tulisan ini, dan ku rasa ada yang kurang? Tapi apa, apa kau tahu? Aku bingung? Aku salah dan tak lagi dapat ku hitung berapa kata yang ku hapus sejak kata pertama ku ketik. Sempat aku berhenti, hanya sejenak, mendengar derita yang mendengung di radio. Aku merasa bersalah? Salah apa, kepada siapa, dan kenapa aku harus merasa bersalah? Di otakku ada puluhan pikiran yang bercampur aduk, atau mungkin ratusan. Tak bisa ku tangkap satu, mereka terbang dan selalu menembus tulang-tulangku. Lagi, sekarang aku berkhayal!! Tapi apa sejak dari tadi, tapi rasa yang tadi memanglah terjadi!! Dan aku sekarang tak dapat brpikir!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-7301584036538641604?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/7301584036538641604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=7301584036538641604' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/7301584036538641604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/7301584036538641604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/04/abstrak-ii.html' title='aBsTrAk II'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-3117067055454078379</id><published>2008-04-15T16:37:00.003+07:00</published><updated>2008-04-15T17:08:11.063+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>aBsTraK</title><content type='html'>Aku tak tahu mau menulis apa? Tulisan ini adalah tulisan yang terakhir dari beberapa puluh tulisan yang ku hapus yang belum sempat selesai!! Ini saja masih mengulang-ngulang dan mengeja tiap kata demi kata!! Aku tak bisa kontrol diriku sendiri!! Ada rasa emosional tapi susah ku luapkan!! Antara pikiran dan apa yang dituliskan menjadi ambigu! Aku seperti mengungkap hampa, jauh melebihi pikiran yang terlintas!! Aku selalu salah memilih kata!! Detik ini juga aku masih saja salah!! Terlalu  masalah dan hati yang selalu salah menyikap!! Tak hanya itu, sempat aku benci dengan apa yang ada di sekitarku, entah itu suatu bentuk atau sekedar suara!! Karena aku lebih tak dapat menyikapi situasi!! Lagi, sekarang aku telah salah memilih kata!! Apa yang salah, dimana yang salah, tapi aku merasa aku telah memilih kata yang salah? Aku telah lelah? Mungkin!! Seperti ada dua jiwa di diriku dan mereka sedang beradu? Apa itu yang membuatku seperti ni sekarang!! Matikan saja musik itu!! Mereka telah ganggu konsentrasiku!! Aku rasa diriku keras kepala, emosional, dan tak mau mengalah, itu memang benar!! Biarkan aku berpikir sekarang, sejenak!! Ya, sudah, tapi aku belum merasa kedamaian di hatiku!! Ada suatu rasa yang pada saat ini mengganjal!! Kenapa aku harus memikirkannya lagi? Dari tadi pertanyaan-pertanyaan ini terulang lagi dan pada titik yang sama!! Inikah yang dinamakan konflik batin!! Tapi aku tak temukan subyek maupun obyek dalam konflik ini!! Ada yang terlintas dipikiranku, tapi sekarang hilang!! Aku sekarang sedang terdiam, tapi yang terlintas tak lagi datang!! Dan jiwa ini masih saja salah merasa!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-3117067055454078379?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/3117067055454078379/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=3117067055454078379' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3117067055454078379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3117067055454078379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/04/abstrak.html' title='aBsTraK'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-6372925818558748650</id><published>2008-03-26T07:28:00.002+07:00</published><updated>2008-03-26T07:43:20.428+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>INTERMEZZO</title><content type='html'>Sebuah kejujuran bahwa hidup tak selamanya harus statis. Semua akan berjalan bukan pada jalur masing-masing. Mereka melangkah pada garis yang melintang, untuk mencoba mencari jalan keluar.&lt;br /&gt;Enyah!!! Mereka yang masing dalam jalur yang sama pastikan enyah! Oleh waktu, yang tak menunggu oleh satuan waktu terkecil!!&lt;br /&gt;Terkesan aku padanya, yang telah jauh merangkak tuk bukakan jalan. Akan aku terus mengingatnya dan mencoba menjadi dirinya!!&lt;br /&gt;-------------------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Sebuah intermezzo untuk diriku yang telah lama tinggalkan blog ini!!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-6372925818558748650?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/6372925818558748650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=6372925818558748650' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6372925818558748650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6372925818558748650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/03/intermezzo.html' title='INTERMEZZO'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1239801692771967565</id><published>2008-01-27T07:35:00.000+07:00</published><updated>2008-01-29T20:22:47.888+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Jika</title><content type='html'>Jika di dunia tak mengenal uang, mungkin tak ada kata miskin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dunia selalu merasa puas, maka kerakusan tak pernah menjamah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dunia tak ada peperangan, mungkin seorang anak tak lagi berselimut sepi di medan perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dunia tak berpenjajah, maka tak satu pun mati dalam kain perjuangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dunia tanpa idealis, mungkin tak lagi ada pemicu keretakan dan pelanggaran prinsip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dunia tak mengenal ilmu, maka kita kan terus bersahabat dengan alam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di dunia tanpa musuh, mungkin kita akan terus berpesta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan yang terakhir jika kesemuanya terjadi, dunia kan tercipta dalam senyum tawa semua orang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1239801692771967565?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1239801692771967565/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1239801692771967565' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1239801692771967565'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1239801692771967565'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/jika.html' title='Jika'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1191931014558628265</id><published>2008-01-24T21:20:00.000+07:00</published><updated>2008-01-27T07:53:54.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Revolusi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>24 Januari 2008</title><content type='html'>Sepertinya tangan telah jemu untuk menulis&lt;br /&gt;otak terasa penuh dan tak lagi selancip dulu&lt;br /&gt;tapi semangat juang tetap dalam titik itu&lt;br /&gt;dan pintu revolusi masihlah jauh dari jejak kita&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1191931014558628265?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1191931014558628265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1191931014558628265' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1191931014558628265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1191931014558628265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/24-januari-2008.html' title='24 Januari 2008'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-8849417621595603357</id><published>2008-01-15T20:48:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T20:56:34.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Revolusi'/><title type='text'>Selangkah dari para Revolusioner</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau  apatis.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;(Soe Hok Gie)&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;em&gt;Lebih baik menderita kekalahan bersama massa daripada bersikap  netral.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;(Bolshevik)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-8849417621595603357?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/8849417621595603357/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=8849417621595603357' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/8849417621595603357'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/8849417621595603357'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/selangkah-dari-para-revolusioner.html' title='Selangkah dari para Revolusioner'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-2216036986365267317</id><published>2008-01-15T20:09:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T20:44:35.226+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>15 Januari 2008</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku sempat bertanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan eksistensi kehidupan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam membuat suatu kesepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang tak ada obatnya untukku&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-2216036986365267317?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/2216036986365267317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=2216036986365267317' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2216036986365267317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2216036986365267317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/15-januari-2008.html' title='15 Januari 2008'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-8854883212938115192</id><published>2008-01-15T20:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T20:06:55.690+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Bidadari, Ku tunggu kau</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kapan kau turun kembali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menemaniku dikala sepi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kusiapkan kau sekuntum bunga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam keranjang yang ku buat sendiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-8854883212938115192?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/8854883212938115192/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=8854883212938115192' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/8854883212938115192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/8854883212938115192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/bidadari-ku-tunggu-kau.html' title='Bidadari, Ku tunggu kau'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1429272698094933848</id><published>2008-01-15T19:51:00.000+07:00</published><updated>2008-01-15T19:58:00.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Dunia aku bertanya</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenapa dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau menyapaku dalam kesepian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya dapat menggigil dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimalam, bercahaya lampu jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat gerimis salju turun dari nirwana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau membawaku dalam kesendirian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya dapat terbakar panas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disiang, bermandikan keringat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saat sinarnya turun dari neraka&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1429272698094933848?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1429272698094933848/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1429272698094933848' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1429272698094933848'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1429272698094933848'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/dunia-aku-bertanya.html' title='Dunia aku bertanya'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-2905555743113813257</id><published>2008-01-13T20:48:00.000+07:00</published><updated>2008-01-13T20:51:08.011+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Arti dari Indonesia</title><content type='html'>Jika kita ucapkan "Indonesia" maka akan merujuk pada negara kita yang terbentang dari Sabang sampai Marauke ini. Lalu ada pertanyaan dari mana asal-muasal dan siapa pencetus kata "Indonesia" itu sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan kata atau istilah "Indonesia" menjadi sangat penting dalam pergerakan dan perjuangkan bangsa Indonesia menghadapi penjajah. Kata "Indonesia" menjadi identitas nasional yang dapat mempersatukan seluruh pergerakan bagsa di dalam menentang kekuasaan pemerintah kolonial Belanda di wilayah Indonesia. Beberapa tokoh yang mempergunakan istilah "Indonesia" di dalam tulisann-tulisannya, antara lain:&lt;br /&gt;J.R Logan, adalah seorang pegawai pemerintah Inggris di Penang. Logan menyebutkan istilah "Indonesia" di dalam suatu tulisan pada majalah yang dipimpinnya. Kata "Indonesia" sendiri untuk menyebutkan kepulauan dan penduduk Nusantara. Ia menulis istilah itu pada tahun 1850. Artikel tersebut menyebutkan Indonesia memiliki potensi yang besar bagi Inggris, yaitu penduduknya yang cukup banyak dan dapat dijadikan sasaran di dalam perdagangan hasil-hasil industrinya. Juga wilayahnya sangat potensial untuk mendapatkan bahan mentah atau bahan baku untuk keperluan produksinya.&lt;br /&gt;Earl G. Windsor; pada tahun yang sama di media milik J.R. Logan ia menyebutkan kata "Indonesia" bagi penduduk Nusantara. Dalam Nusantara memiliki potensi yang sangat besar di dalam perdagangan hasil industrinya, karena pada masa itu jumlah penduduk Indonesia merupakan yang terbesar di Asia Tenggara.&lt;br /&gt;Selain dua tokoh diatas ada tokoh-tokoh lainnya yang mempopulerkan istilah "Indonesia" di dunia internasional seperti Adolf Bastian (1884), Van Volenhoven, Snouck Hurgronje, Kern, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sampig tokoh-tokoh itu yang pertama kali mempopulerkan istilah "Indonesia", juga ada tokoh nasional pada masa pergerakan seperti dari tokoh-tokoh Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. Dalam rapat umum yang dilaksanakan pada bulan Januari 1924, Perhimpunan Indonesia yang semula bernama Indische Vereniging kemudian berganti menjadi Indonesische Vereniging. Sehingga dengan nama "Indonesia" telah menunjukkan sikap yang lebih kuat sebagai orang Indonesia dan bukan sebagai orang Hindia Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhimpunan Indoneia yang bermula di Belanda memiliki majalah sebgai alat komunikasi dan perjuangan. Majalah tersebut bernama Hindia Putra, kemudian berganti nama Indoneia Merdeka. Kata "Merdeka" sendiri mengandung ungkapan tentang tujuan dan usaha keras bangsa Indonesia untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Indonesische Vereniging atau Perhimpuanan Indonesia merupakan satu-satunya organisasi pergerakan bangsa Indonesia yang terusberjuang untuk memperkenalkan istilah "Indonesia" di mata dunia Internasional. Bahkan di dalam menghadapi kongres-kongres Liga Anti Imperialisme di Eropa selalu menggunakan kata "Indonesia" dalam organisasinya. Dalam perkembangan selanjutnya kata "Indonesia dikukuhkan menjadi identitas nasional  melalui Kongres Pemuda dengan pengucapan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Istilah "Indonesia", yaitu tercantum dalam isi Sumpah Pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah ingatkah engkau akan isi Sumpah Pemuda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Sumpah Pemuda, istilah " Indonesia" kemudian ditetapkan menjadi identitas nasional bangsa dan negara. Kemudian kata Indonesia dikukuhkan melalui Proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari buku Sejarah Untuk SMA Kelas XI Program Ilmu Sosial, karya I Wayan Badrika dengan beberapa perubahan sesuai kebutuhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-2905555743113813257?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/2905555743113813257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=2905555743113813257' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2905555743113813257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2905555743113813257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/arti-dari-indonesia.html' title='Arti dari Indonesia'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-3633955051243743539</id><published>2008-01-13T20:35:00.000+07:00</published><updated>2008-01-13T20:42:46.258+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sejarah'/><title type='text'>Makna dari Jugun Ianfu</title><content type='html'>Jugun ianfu dalam bahasa Jepang merujuk pada istilah wanita penghibur (Comfort Women) yang terlibat pada perbudakan seks yang dilakukan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II di semua koloni jajahan Jepang dan wilayah perang. Para Jugun ianfu merupakan wanita-wanita yang diambil paksa oleh tentara Jepang untuk memuaskan kebutuhan seksual mereka selama peperangan. Di setiap koloni atau wilayah peperangan Jepang terdapat sedikitnya satu asrama Jugun Ianfu yang dapat berisikan sekitar 20 kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk dalam Jugun Ianfu sendiri adalah wanita Jepang, Korea, Tiongkok, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, Vietnam, Indonesia, India, Indo, dan wanita kepulauan Pasifik. Jumlahnya sendiri selama perang sangat menggemparkan yaitu sekitar 20.000  dan 30.000 wanita, tetapi menurut beberapa Jugun Ianfu yang masih hidup jumlah ini sepertinya berada dibatas atas dari angka di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jugun Ianfu yang diambil dari Jepang sendiri jumlahnya cukup sedikit, dan kebanyakan dari mereka menjadi karayukisan, atau manajer asrama Jugun Ianfu. Karena adanya peraturan yang dikeluarkan dari pemerintahan Jepang yang tidak diperbolehkannya para Jugun Ianfu dari Jepang keluar dari negara. Kebanyakan asrama Jugun Ianfu tidak dikelola sendiri oleh militer Jepang akan tetapi keberadaannya berada dipangkalan militer Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan asrama Jugun Ianfu  sendiri adalah kebijakan militer Jepang. Dari penelitin sejarah ke dalam pemerintahan Jepang mencatat alasan-alasan untuk pendirian asrama Jugun Ianfu. Pertama, penguasa Jepang mengharapkan dengan menyediakan akses mudah ke budak seks, moral dan keefektivan militer tentara Jepang akan meningkat. Kedua, dengan mengadakan asrama Jugun Ianfu dan menaruh mereka dibawah pengawasan resmi, pemerintah berharap dapat mengatur penyebaran penyakit kelamin yang dapat ditimbukan. Terakhir, pengadaan asrama Jugun Ianfu digaris depan menyingkirkan kebutuhan untuk memberikan izin istirahat bagi tentara Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan Jugun Ianfu pada tahap awal dilakukan dengan cara konvensional. Dengan melalui iklan di koran-koran yang terbit di Jepang dan koloni Jepang di Korea, Manchukuo, dan daratan Tiongkok. Kebanyakan yang menanggapi iklan tersebut adalah pelacur dan menawarkan jasa mereka sukarela. Yang lainnya dijual oleh keluarga mereka sendiri kepada militer karena kesulitan ekonomi. Tetapi kegiatan tersebut cepat berhenti, terutama dari Jepang. Seperti yang telah disebutkan diatas bahwasanya Menteri Urusan Luar Negeri menolak pengeluaran visa perjalanan bagi pelacur Jeang, karena merasa akan mencemari nama Kekaisaran Jepang. Dengan peraturan demikian, militer Jepang kemudian mencari wanita penghiburdi luar Jepang, terutama dari Korea dan Tiongkok. Banyak wanita dibohongi dan ditipu untuk bergabung ke asrama Jugun Ianfu. Lainnya diculik oleh tentara Jepang di medan perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Jugun Ianfu yang masih hidup menggambarkan asrama Jugun Ianfu tempat yang mengerikan. Wanita dibagi menjadi tiga taua empat katagori, tergantung lamanya pelayanan. Wanita yan paling baru yang lebih tidak mungkin terkena enyakit kelamin ditempatkan pada kategori tertinggi. Dengan berjalannya waktu, Jugun Infu diturunkan katgorinya karena kemungkinan terkena penyakit kelamin lebih tinggi. Ketika mereka dianggap terlalu berpenyakit untuk digunkan lebih berlanjut, mereka diabaikan. Banyak Jugun Ianfu melaporkan uterus mereka membusuk dari penyakit yang diperoleh oleh ribuan lelaki dalam waktu beberapa tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika usaha perang mengalami kemunduran dan militer mengevakuasi posisi mereka di Asia Tenggara, Jugun Ianfu non-Jepang ditinggalkan. Banyak Jugun Ianfu mati kelaparan di pulau-pulau yang ditinggalkan ribuan mil dari rumah mereka. Beberapa dapat kembali ke tempat asalnya di Korea atau timur laut Tiongkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang terjadi hingga sekarang setelah kemerdekaan bergumang 62 tahun yang lalu adalah dirampasnya hak-hak para Jugun Ianfu, tidak adanya perbaikan nama baik bagi para Jugun Ianfu. Mereka harus hidup dalam kesengsaraan, diejek, dihina, karena ia TIDAK SENGAJA menjadi Jugun Ianfu. Pandangan orang awam akan Jugun Ianfu harus dibenarkan, karena ini telah melanggar hak-hak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diambil dari http://www.wikipedia.org dengan berbagai perubahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-3633955051243743539?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/3633955051243743539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=3633955051243743539' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3633955051243743539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3633955051243743539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/makna-dari-jugun-ianfu.html' title='Makna dari Jugun Ianfu'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-6963587771727169717</id><published>2008-01-11T16:52:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T17:08:00.932+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Sepatumu</title><content type='html'>Sepatumu indah&lt;br /&gt;Bermandikan kemilau berlian&lt;br /&gt;Sehalus jua kulitmu yang kuning langsat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatumu berkilau&lt;br /&gt;Memandangnya ingin ku gapai kaki mungil&lt;br /&gt;Merabanya tanpa sisa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatumu cantik&lt;br /&gt;Secantik wajahmu pula&lt;br /&gt;aku rindu bibir mu sekarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatumu bercahaya&lt;br /&gt;Siapa punya tanyaku&lt;br /&gt;Karena ku tahu kau tak pernah bersepatu&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-6963587771727169717?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/6963587771727169717/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=6963587771727169717' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6963587771727169717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6963587771727169717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/sepatumu.html' title='Sepatumu'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-4466259959348483669</id><published>2008-01-11T15:31:00.000+07:00</published><updated>2008-01-11T16:36:50.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Senada Hidup</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Seharus bernafas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;disetiap masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharus berkembang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disetiap dimensi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharus Berindra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disetiap langkah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharus Berasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disetiap peristiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharus Berkarya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disetiap budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharus Bernafsu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disetiap jiwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharus Berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disetiap kematian&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-4466259959348483669?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/4466259959348483669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=4466259959348483669' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/4466259959348483669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/4466259959348483669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/senada-hidup.html' title='Senada Hidup'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1001010392450928594</id><published>2008-01-09T19:42:00.000+07:00</published><updated>2008-01-09T19:44:13.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jalan-jalan'/><title type='text'>Jalan2 dengan Exorcist 8 Jan 08</title><content type='html'>Laporan Wisata Exorcizt!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Member EXORCIST yang mengikuti jalan2 hanya sekitar 14 orang. Kumpul yang ditentukan jam 9 molor hingga jam 10 lebih. Rencana perjalanan berubah total, dari pantai, AMPLAS lalu ke taman sari hingga ide nyasar ke "BONBIN". Keputusan terakhir yaitu saat motor sudah dinyalakan: EXORCIST jalan2 ke Taman Sari dan "BONBIN"! Tak disangka baru saja mulai jalan saat di per4an wirobajan kita pecah jadi dua. Ada rombongan I yang diketuai Gontenk menuju ke arah kiri ke Taman Sari tapi rombongan II yang hanya Onde dan Pepenk ngikuti lampu jalan lurus tak tahu mau kemana. Saat rombongan I telah sampai diparkiran Taman Sari rombongan II belum muncul dari permukaan. Telah ditunggu lama, sms Bang Onde gak dijawab, telepon hp aja rusak, ya udah ditunggu hingga meringis! Pepenk telepon, Gontenk jawab klo semua dah kumpul diparkiran Taman Sari tinggal nunggu kalian! Saat raut ajah dah tampak mulai ketuaan, mereka berdua muncul dari balik gapura.Ternyata tak terduga tak bersalah ternyata mereka berdua salah informasi, mereka dah dateng duluan ke "BONBIN"! Semua ketawa!!Masuk menuju kompleks Taman Sari(TS) dengan langkah khas EXORCIST!! Jalan sambil terus ketawa tanpa malu!! Sampai dit4 karcis aja rombongan dah kebelet narcis foto2 duluan!! Banyak orang melototin terutama penjaga karcis!! Gontenk beli karcis, Gila masukin 14 binatang primitif ini aja ke TS harus ngrogoh celana lebih dalam tp gak sampai celana dalam, Rp 35000!! Mulai masuk, baru mau masuk belum masuk dah minta foto2, dan berlagak turis dadakan!! TS yang awalnya damai, tenang, jadi ramai karena suara2 orang2 primitif tadi! Dengan PD gak pakai Guide rombongan masuk dengan santainya PADAHAL DIPOTOTIN TERUS MA GUIDE2 disana!! Guide dadakan pun muncul, Gontenk memandu nyusuri jalan2 yang ada di daerah TS padahal gak tahu arahnya ke mana!!&lt;br /&gt;Sampai ke bagian yg rombongan gila ini pikir bagian dapur dari TS rombongan mulai menjawah satu2 bagian disana!Sampai suatu ketika ketemu t4 yg sangat gelap gulita! Yang dilakukan malah tindakan yang terpuji, praktek "pipis berjamaah" sambil uji nyali yang dilakukan Onde ma Dio! Rombongan mengakhiri t4 yg kata mereka dapur itu dengan gaya Exorcist: FOTO BARENG!! Saat semua dah kembali di pusat TS (Taman Sari) ada dua makhluk primitif ketinggalan ternyata, Putri ma Intan! Setelah ditunggu ternyata yang keluar malah pasangan bule, eh ternyata mereka ada dibelakangnya!Rombongan makhluk primitif bingung, mereka ingin menuju ke daerah tertinggi di TS yang ada dibelakangnya Pasar Ngasem! Karena melihat tangga yang aneh Gontenk merasa tertantang untuk menaikinya, ternyata setelah menaiki tangga tersebut seluruh pemandangan di area TS bagian Barat, utara, dan Selatan terlihat jelas. Daerah yang menjadi tujuan rombongan pun terlihat, ternyata ada dibagian utara nan jauh dimato! Semua rombongan musyawarah tanpa mufakat. Ada yang mau naik motor ada pula yang jalan kaki aja! Exorcizt mau sehat, pilihan jalan kaki menjadi alernatif utama. Dengan guide Pepenk rombongan makhluk primitif menyusuri desa wisata TS yang sunyi sepi. Kesunyian desa TS pun menjadi pecah saat rombongan gila menyusuri desa. Semua bingung, guide Pepenk tidak mengetahui kemana lagi jalannya. Rombongan seperti tersesat ditengah keramaian kota. Dengan sok PDnya mereka menyusuri jalan, eh ternyata bener. Hujan turun tanpa tahu SIKONT** (Situasi, Kondisi, dan Toleransi) ! Rombongan ketemu pintu lorong bawah tanah, t4 terbaik terlindung dari hujan. Lagi2 kesunyian lorong digantikan gema tawa makhluk2 primitif itu. Sesaat setelah menemukan pintu keluar ada sesuatu yang tertinggal, "Onde gak ada"! Semua bingung gak tahu dia kemana, apa gara2 kulit putihnya dia jadi gak kelihatan! Pijat jempol pun berjalan(SMS maksudnya), "Nde kamu dimana?"! Onde telepon, Gontenk jawab dengan penuh keyakinan tapi gak tahu bener kagak"Loe masuk aja kalo ada pintu yang kaya lubang!" Dari arah pintu masuk lorong terlihat juga sosok Onde! Semua tertawa dan bertepuk tangan. Seperti mendapat tamu, Onde mendapat salam dari Gontenk saat tiba dirombongan, ternyata ia beli rokok dab! Sambil menunggu hujan robongan duduk2 isirahat di tangga lorong! Hujan reda, dg handycam Pepenk semua action saat keuar dari lorong! Ternyata lorong itu menuju ke t4 parkir. Ya sudah, tujuan dilakukan dengan sepeda motor.Parkir di belakang Pasar Ngasem, rombongan menuju ke t4 tujuan. Di jalan Gontenk melihat kuda, "Jarane kae lanang loh, kae loh ketok anune!", dengan lancar terucap. Rombongan sempat merasakan hawa pasar Ngasem. T4 tujuan sampai, yaitu banguan tertinggi di daerah Ngasem dan Taman Sari. Sambil berjalan menaiki tangga, rombongan sudah lelah. "Duh, dodoku sesek", Onde bicara."Boyok tua ki", Gontenk nylekop! Sudah sampai di T4 tujuan! Gila semua daerah di Ngasem dan sekitarnya kelihatan dengan jelas. Lagi dan lagi sampai puncak tertinggi di daerah tersebut hanya diisi oleh gaya hidup narsis Exorcist, Foto2! "Pepenk aja munggah, sa'ake watune, nek kowe wae ra popo!" Onde nylekop saat Pepenk mencoba naik direnruntuhan bangunan. Tak disangka kalo daerah ini berdekatan langsung dengan lorong tadi."Aku mau wis munggah mbrene je!", Onde meyesal tapi semua ketawa. Rombongan turun dari bangunan untuk menuju ke bawah dengan nylekopan, "Aku ngeleh!". Turun aja masih sempet foto2 dulu beberapa!Setelah selesai dit4 tujuan tersebut, rombongan menuju tujuan terakhir yaitu "BONBIN"! Rombongan berkurang dua yaitu Jeki ma Rara. Sebelum menuju ke tujuan selanjutnya rombongan sholat dulu di masjid Gedhe Kauman. Exorcist ternyata masih punya IMAN juga y! Karena perut semua rombongan sudah mengeluarkan soundtrack album maka wajib mampir makan dulu saat diperjalanan!Kita pisah lagi, rombongan I terdiri dari Gontenk, BuNeg, Putri, Oki, Dio(Gue lupa siapa lagi,red) berhenti didaerah timur alun2 sekitar tempat makan bakso dan mie ayam. Rombongan II terdiri Onde, Pepenk, Rusma, dan yang lain gak tahu ke mana! Pijat jempol lagi(SMS), Onde sudah yang ketiga kalinya ke sasar dalan acara tersebut. Dengan sedikit gerakan tangan dan menunggu, rombongan II datang! Ternyata mereka pikir rombongan I tadi belok kiri ke arah Kantor Pos! Makan mie ayam yang beda dari biasanya(ayamnya gak dipotong2 disertai dengan dengan 2 gelas es klamud terasa lega ditenggorokan! "Bu, mie ayam sama es klamud dua?", Onde tanya ke penjual. "Lima ribu!", Penjualnya jawab! " Sama Bu!", Pepenk juga mau bayar! Di jalan saat ke "BONBIN" mereka mulai berpikir masa es klamud-kan satunya 1500 kok bayarnya 5000, jadi mie ayamnya cuma 2000 donk! Sampai di BONBIN mereka sadar kalo dapat es klamud gratis tadi setelah tanya ma Gontenk. Berjalan menuju pintu loket, rombongan seperti layaknya turis dari luar kota. Sampainya di pintu loket harga yang terpampang 8000. Gila, 3 kalinya lebih dari Taman Sari! Urunan pun menjadi pemandangan yg menarik saat itu! Banyak yang nylekop larang! Uang kekumpul kelebihan 10000 dibelikan untuk minum! Baru masuk aja rombongan dah mulai bertingkah layaknya binatang. Ada yang gelantungan, ada yang dimirip2in ma spanduk acara. BuNeg berkata" Saatnya mencari anggota Exorcist yang ke-30"! Ada lagi yang nylekop mengantar balik Pepenk ke t4 asalnya! Hewan yang pertama dilihat saudara deket dari keluarga Pepenk, orang utan ma simpanse. Karena orang utannya lagi gak mood dilihatin maka beralih ke Simpanse. "Munyuk'e lanang kae, wak koyok'e lanang kabeh!", lontaran perkataan terpuji dari Gontenk terucap. Adegan demi adegan simpanse mulai disorot handycam. Adegan bermesraanpun terjadi, Onde mulai mendubbing ucapan2 yg digerakkan simpanse. "Wah, kae munyuk'e HOMO!", ucapan terpuji terucap lagi dari Pepenk sambil nunjukin pakai tangan. Terlihat juga dua gajah tapi bukan ekornya saja. "Wah kae Asna karo Juno", seseorang berkata baik. Rombongan pun lalu berputar2 melihat ikan, buaya, tapir, babi (bukan maksudnya ngejek tapi kenyataan), ma harimau. Duduk istirahat, Pepenk memulai bersikap tidak seperti biasanya, ia mulai mencari kutu dirambut. Wah, kelainan mulai tampak satu persatu. Tanpa pikir panjang rombongan mulai berjalan lagi. Rombongan mendekati sangkar Wau-Wau. Kejadian unik pun terjadi, seperti sudah berpengalaman dalam sirkus. Tiga ekor Wau2 tadi berataksi, yang satu bergelantunagn ke depan ke belakang dengan cepat berkali2 yang satunya lagi ke samping depan dan belakang berulang kali juga. Yang unik yang terakhir Wau2 itu berputar 360 derajat diatas sebuah kayu berulang kali. Rombonganpun hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Ada yang beda dari kawanan hewan2 di BONBIN tersebut, mereka tampak tak semangat dan kelihatan stress! " Wah, bayar 8000 meng ndelok kewan stress, rugi ki!" Onde mulai menyesali perjalanannya. Ada yang unik, rombongan menemukan sejenis kera yang lucu. Tanpa malu ia berlagak seperti foto model saat handycam Pepenk mulai menshootnya, dan tanpa ragu berpose sensual dengan memperlihatkan anunya ke kamera beberapa kali. Hewan yang sejenis disampingnya pun juga bertingkah laku seperti itu. Rombongan sudah kehilangan semangat karena kelelahan. Onde tampaknya pucat, karena dadanya sesak setalah bermain dengan "asap" bersama Gontenk. Tapi Gontenk masih saja bermain asap. Onde pun mulai mengigau dengan kata2  yang aneh di samping Gontenk, "Pikirkan satu kata untuk hari ini?", dan,"Har keto'e ana le kurang? Apa? Duitku Entek!" diucapnya beberapa kali. Kayaknya racun itu telah membuat Onde hilang kendali. Setelah melewati semua jalan akhirnya sampai juga jalan keluar. Jalannya naik lewat tangga. Semua gak kuat jalan apalagi Gontenk ma Onde yang dari tadi pagi ngisep asap puluhan kali. Pintu keluar di depan mata, semua tampak bahagia dan terharu dan menangis(ya enggak lah)! Dan di saat terakhir kali saat motor di nyalakan, Gontenk memberikan pertanyaan" AMPLAS ra Nde?". Onde pun menjawab "MATAMU!".END&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1001010392450928594?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1001010392450928594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1001010392450928594' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1001010392450928594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1001010392450928594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/jalan2-dengan-exorcist-8-jan-08.html' title='Jalan2 dengan Exorcist 8 Jan 08'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-3730981537768167785</id><published>2008-01-06T20:19:00.000+07:00</published><updated>2008-01-06T20:39:05.849+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Politik'/><title type='text'>Jika Soekarno Masih Hidup</title><content type='html'>Kharisma beliau tidaklah redup walaupun raga telah terkikis waktu. Hingga saat ini gemuruh pendukung Soekarno pun masihlah banyak dan tersebar di seluruh Nusantara. Para aktivis muda banyak yang meniru perjalanan politik Soekarno. Sepertinya gaungnya takkan pernah redup!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini dadaku, mana dadamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Malaysia mau konfrontasi politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hadapi dengan konfrontasi politik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Malaysia mau konfrontasi militer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hadapi dengan konfrontasi militer"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang tidak tahu akan pernyataan tersebut. Sudah 43 tahun suara itu lenyap ditelan ibu pertiwi. Tapi sejarah rajin untuk mencatat. Dwikora, tepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maju pertama dalam barikade pejuang, bersuara lantang diantara ribuan rakyat dan tentara. Untuk Indonesia, bukan untuk negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Indonesia sebegitu berani zaman itu. Sulutan apinya telah membuat kita bangga akan negeri sendiri. Kita telah berani dan sejajar dengan negeri yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sekarang kejadiaannya suduh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski konfrontasi atau perang dengan Malaysia tidak pernah benar benar terjadi, namun perasaan tidak bersahabat itu terus membayangi bagai api dalam sekam. Api itu begitu mudah tersulut oleh beberapa kejadian seperti penganiayaan TKI , perebutan Blok Ambalat, penyiksaan Donald Pieter Luther ketua Tim Wasit karate Indonesia dan yang terakhir pengambilan hak paten atas kebudayaan roeg Ponorogo. Kita merasa terus terusan dilecehkan namun permintaan maaf yang kita harapkan terasa berat untuk diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak marah akan ini semua? Memang rakyat tidak begitu tahu dan jelas masalah yang terjadi, tapi sebagai orang yang mencintai negara harkat dan martabat Indonesia seperti dilecehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saja Bung Karno masih ada, tentu dia akan tanggap terhadap luka dan kemarahan yang dialami oleh rakyatnya. Dia tidak akan sembunyi dibalik kemewahan istana, tapi justru turun memimpin dan menyuarakan kegelisahan rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada presiden yang selantang Soekarno, SBY yang besar tidak dapat bersuara lantang. Mana rakyatmu dan mana presidenku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-3730981537768167785?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/3730981537768167785/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=3730981537768167785' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3730981537768167785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/3730981537768167785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/jika-soekarno-masih-hidup.html' title='Jika Soekarno Masih Hidup'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-414380834697980154</id><published>2008-01-05T17:02:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T17:08:16.715+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Aku Tidak Suka Sekolah!</title><content type='html'>&lt;em&gt;Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang bisa membaca sangat awal menjadi kecewa dan menjadi murid yang tak bersemangat pada usia sembilan tahun. Prestasi dini hasil rangsangan orang dewasa pada anak-anak yang masih muda juga akan menghasilkan pembelajar yang pencemas.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Katthy Matthews)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu aku masih masih ingusan dan belum bisa kencing sendiri, ibu sudah mengajakku untuk masuk sekolah. Disana ketemu dengan beberapa orang yang bilang padaku kalau mereka adalah guru. Aku diberi banyak mainan. Katanya, aku boleh melakukan apa saja. Di kelas ada tumpukan mainan. Ada kertas bergambar, ada kereta api yang persis seperti yang kupunya dan ada perangkat milik ayah yang dinamai komputer. Guru itu yang menemaniku dari pagi hingga sore. Acara kami jalan-jalan, lalu makan, lalu tidur, lalu mandi, lalu pulang. Ibu guru selalu bercerita yang itu-itu saja. Mula-mula menarik, tapi lama kelamaan aku jadi bosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap aku bilang, ‘ibuk aku bosan sekolah! Serta merta ibu lalu ayah terus kakak-kakakku menyemprotku dengan kemarahan yang meluap-luap. ‘tahu nggak sekolah itu penting. Ayah bisa seperti sekarang ini karena sekolah. Kakakmu yang di luar negeri juga bisa sukses karena sekolah. Berapapun mahal sekolahmu tetap ayah akan ongkosi. Karena apa? Karena sekolah itu penting. Ingat, penting, penting dan penting!! Memang sekolah itu membosankan. Ayah kerja juga bosan. Ibumu ngasuh kamu apa tidak bosan? Jadi jangan sekali-kali malas berangkat sekolah. Kamu harus sekolah! Ingat, harus sekolah!! Itulah yang diucapkan berulang-ulang oleh ayahku. Perkataan yang membuat aku sering menyamakan ayah dengan seorang serdadu.&lt;br /&gt;Kemauan ibu dan ayahku untuk menyekolahkanku begitu besar. Sewaktu aku mampu mengeja angka dengan riang ibu mengumumkannya ke semua tamu. Aku selalu duduk diatas pangkuanya kemudian ibu memintaku untuk mengeja angka dari 1-10. Lalu sewaktu aku bisa menjadi juara harapan untuk lomba lukis, ayah memamerkan karyaku ke semua teman kantornya. Dengan antusias ayahku akan mengatakan, kalau aku anak cerdas yang kelak akan menjadi pelukis besar. Besoknya tiap minggu aku diajak oleh ayah untuk ikut les melukis. Kemudian ibu mendatangkan seorang guru matematika yang mengajariku angka perkalian dan pembagian. Semua pelajaran yang belum diajarkan di sekolah lebih dulu dilatihkan di rumah. Lama-lama aku tidak bisa membedakan antara sekolah dengan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata aku tidak bernasib sendirian. Temanku yang bernama Dino juga memperoleh pengalaman serupa. Ia dilatih dari mulai renang, bahasa, komputer, balet, piano dll. Sering kulihat Dino menangis karena kecapekan dengan kegiatannya. Ayahnya hanya bilang, ingat pribahasa: bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Ibuku juga bilang padaku untuk meniru sikap Dino. ‘Lihat dino itu anak pintar, mau les apa saja. Ibu yakin besok Dino itu akan sukses, tidak sepertimu! Ini yang ingin kubilang kesukaan ibu lainnya, senang memperbandingkan. Dulu kakakku dibanding-bandingkan dengan putera paman yang sekolah di luar negeri. Sepertinya kedua orang-tuaku belum puas kalau melihat anak-anaknya tidak sehebat anak tetangga sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya aku sejak kecil di-sekolahkan di tempat yang katanya unggulan. Disana sekolah bisa berawal dari pagi hari dan berakhir ketika matahari ingin tenggelam. Aku berangkat bersamaan dengan kakak yang bekerja di Bank dan pulang hampir bersamaan waktunya. Aku persis seperti pegawai yang menimba ilmu. Tapi ibu dan ayah selalu saja katakan padaku: ‘ayah dulu sekolah harus jalan kaki dan tidak pakai buku. Kalau terlambat bisa-bisa ayah dipukul!, biasanya ibu kemudian memberi tambahan komentar yang lebih seram: ‘ibumu dulu sekolah sambil jualan dan sering diejek-ejek, karena tidak punya sepatu! Ringkasnya, pengalamanku sekolah yang menyakitkan tidak seberapa beratnya dibanding dengan apa yang pernah ayah-ibuku alami. Yang pingin aku tanya tapi selalu urung aku ungkapkan; apa ibu dan ayahku tidak bosan dengan pengalaman sekolah yang menyakitkan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadangkala tak pernah jelas, siapa yang sebenarnya sekolah. Ibu-bapakku atau aku sendiri. Ibuku paling malu jika aku tiba-tiba tak bisa menyebut huruf atau angka secara benar. Ibu dengan bergegas akan menggulung baju lalu menjewerku kalau ketahuan aku dapat nilai buruk. Ayahku sikapnya sama. Dengan ringan tangan diambil bambu kecil untuk menyabet pantatku kalau aku tidak masuk 10 besar. Pendeknya aku tidak boleh tampak tolol apalagi bodoh selama sekolah. ‘Kurang apa ibu memberimu fasilitas. Sudah ibu les-kan kamu tiap sore. Ibu tidak ragu untuk mendatangkan guru-guru terbaik ke rumah. Kok kamu masih saja dapat nilai buruk. Kamu ini gimana sikh? Di rumah aku disuruh-suruh dan di sekolah aku dijemput oleh pengalaman buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang buruk dan menyakitkan dari sekolah diantaranya adalah larangan untuk melakukan apa yang kita sukai. Aku suka sekali mengunyah permen kalau ibu guru sedang ngomong. Aku suka kalau masuk sekolah tidak terlalu pagi. Aku senang kalau sekolah itu bisa pakai baju bebas, tidak ber-seragam. Dan yang kusukai kalau sekolah memperbolehkan kita keluar kelas seandaianya kita merasa bosan. Tapi tindakan-tindakan itulah yang dilarang oleh sekolah. Yang menyenangkan dilarang dan yang membosankan tambah menjadi perintah. Seperti harus diam kalau guru sedang mengajar. Diam menurut ilmu sekolah sama seperti robot. Jangan suka ketawa terbahak-bahak atau jangan meluapkan kemarahan seenaknya. Ringkasnya, sekolah tempat terbaik untuk mereka yang tidak suka bergerak. Dan aku bukan-lah robot!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain larangan, sekolah juga suka sekali memberi perintah. Ada pekerjaan rumah yang ditumpuk-tumpuk tiap hari. Yang menyebalkan setiap perintah tak pernah diberitahukan alasanya secara jelas. Dan guru di sekolah tak pernah minta pendapat kami perlu-tidaknya tugas itu diberikan. Sebab tak jarang tugas yang diberikan tidak masuk akal. Pernah ibu guru memintaku untuk menulis berulang-ulang huruf atau menghapal berkali-kali sebuah kata. Tak tahu apa istimewanya tugas ini, selain membuat ibu guru jadi kelihatan tambah sibuk! Makin berat dan sulit sebuah tugas sepertinya ibu guru makin girang. Jadi di sekolah aku berkenalan dengan tugas-tugas yang diberikan tanpa meminta pertimbanganku lebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah aku tidak boleh gagal apalagi dibilang bodoh. Semua murid harus bisa. Murid diurutkan berdasar atas kecerdasan. Temanku namanya Gagas selalu menjadi anak pintar. Ibuku minta agar aku mencontoh prestasinya. Aku selalu bilang: ‘gagas sama aku lain ibuk! Ia suka matematika tapi aku suka menyanyi. Ia tidak suka main bola sedang aku senang sekali. Kami itu berbeda ibuk! Pernyataanku seperti ini tak bisa ibu terima dan kami selalu mengakhiri perdebatan dengan keributan. Padahal aku juga sering diberitahu Gagas, kalau jadi anak pintar tak selalu menyenangkan. Ia sama sepertiku harus belajar, belajar dan belajar. Kalau kalian pintar nanti akan sukses, begitu guru di kelas selalu nasehatkan kami. Sekolah tak mau menerima anak gagal. Di sekolahan, semua anak harus pintar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah aku sering dibohongi. Kata guruku kalau kita bekerja keras nanti akan berhasil. Kalau kita berhemat niscaya kita akan kaya. Itu tak berlaku untuk ayah dan ibuku. Aku tak tahu apa kerja ayah. Berangkat siang hari dan kadang pulang malam atau pagi. Tapi ayahku selalu punya uang. Ibu, ayah dan kakak-kakakku tak pernah berhemat. Ibuku suka sekali belanja barang. Tiap hari ada saja barang yang dibeli. Kemudian ayahku tergolong orang yang gemar berganti-ganti mobil. Kami semua keluarga yang tak pernah kehabisan uang meski kami juga tak pernah menabung. Ayah juga tiap pulang kerja baunya masih harum. Jika kerja keras diukur dengan keringat. Jika kerja keras dilihat dari kerutan kening atau banyaknya waktu maka itu semua tak berlaku bagi ayahku. Makanya aku sering membantah petuah yang diulang-ulang oleh guruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak menyenangkan dari sekolah adalah sikap guru yang selalu merasa benar. Guruku tak mau dibantah kalau ia salah. Tiap kali aku membenarkan pernyataan guru selalu aku dapat teguran. Dari mulai berdiri di depan kelas hingga komentar, ‘jangan sok pintar ya! Yang menyebalkan kalau guru mewajibkan kami di kelas membeli buku. Promosi guruku tentang buku kadang keterlaluan, bahkan ada pula yang mengancam kalau tidak membeli nilainya akan jatuh. Guru di sekolahku ada yang menyenangkan tapi jumlahnya sangat sedikit. Banyak yang menyebalkan dan itu membuat sekolah jadi perkara yang menjengkelkan. Aku tak suka orang yang keliru tapi ndak mau dibenarkan. Di sekolah yang diajarkan pokoknya patuh dan taat pada semua perintah guru. Walaupun perintah itu keliru dan sesat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi anak sebayaku ternyata ada yang tidak sekolah. Di perempatan jalan sering kulihat mereka mengemis dan mengamen. Ibuku hanya bilang, ‘itu lihat kasian. Segede itu belum sekolah. Beruntung kamu bisa sekolah. Makanya yang pintar sekolah, kalau bodoh kamu bisa bernasib seperti mereka’ Apa benar mereka tidak bisa sekolah karena bodoh? Apa benar anak mengemis karena malas? Ayahku malah melempar tuduhan yang lebih sadis, ‘mereka itu sengaja dibisniskan’ Aku kadang sebal dengan orang tua yang sering melempar tuduhan seenaknya dan bikin komentar hanya untuk alasan tidak membantu. Apapun yang terjadi, tapi yang jelas, mereka punya hak sekolah sama sepertiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tahu kenapa aku tidak suka sekolah? Selain pelajaran yang kurang membuatku antusias juga karena sekolah tidak bisa menampung semua anak seusiaku. Jika benar sekolah itu penting mengapa kita tidak membuat pendidikan ini bisa diperoleh oleh semua anak. Andaikan benar sekolah itu akan mendidik anak jadi pintar kenapa tidak mengajak anak untuk terlibat? Terlibat segalanya, dari ngurus materi hingga bagaimana usulan tentang metode. Aku yakin kalau sekolah itu tidak hanya berisi larangan dan perintah, pastilah sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. Sungguh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dihimpun dari http://&lt;a href="http://www.resist.or.id/"&gt;www.resist.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-414380834697980154?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/414380834697980154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=414380834697980154' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/414380834697980154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/414380834697980154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/aku-tidak-suka-sekolah.html' title='Aku Tidak Suka Sekolah!'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-6633592727531257056</id><published>2008-01-05T16:49:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T16:58:28.766+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gerakan Revolusi'/><title type='text'>Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda</title><content type='html'>&lt;em&gt;Kami percaya bahwa perjuangan revolusioner adalah suatu perjuangan yang sangat panjang, sangat sulit. Sulit, tetapi jelas tidak berarti mustahil, bahwa suatu kemenangan revolusi di suatu negara hanya akan terjadi di negara itu saja.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Che Guevara)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku boleh memilih untuk berjuang, mungkin saat ini aku ingin tinggal bersama kalian. Melewati jalanan yang padat lalu lintas, dengan iring-iringan spanduk yang panjang, kalian ketuk nurani para penguasa. Kaum yang berbaju megah, berkendaraan bagus dan punya mobil mengkilap. Kalian pertaruhkan segalanya, kesempatan untuk hidup senang, kemapanan pekerjaan, dan sekolah yang kini kian mahal. Buang segala teori sosial yang ternyata tak bisa membaca kenyataan. Keluar kalian dari training-training yang pada akhirnya tidak membuat kita paham dan mau membela orang miskin. Kupilih tinggal serta berjuang di hutan karena di sana aku kembali mendengar rintih dan suara orang yang hidupnya menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke negerimu pastilah aku enggan untuk duduk di kursi. Akan aku habiskan waktuku untuk mengelilingi kotamu yang padat dengan orang miskin. Akan kusapa setiap anak lapar yang menjinjing bekas botol minuman untuk mendapat uang receh. Akan aku datangi para nelayan yang kini lautnya dipenuhi oleh pipa-pipa gas perusahaan asing. Akan kubantu para buruh bangunan yang menghabiskan waktunya untuk memanggul alat-alat berat. Dan akan kutemani para buruh pabrik yang masih saja diancam oleh PHK. Tentu aku akan mendatangimu anak muda, yang resah dengan kenaikan BBM atau proyek pendidikan yang kian hari kian mahal. Kurasa aku tidak bisa istirahat jika tinggal di negerimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku boleh memilih untuk melawan, mungkin sekarang ini aku akan duduk bersama kalian. Aku akan bilang kalau perjuangan bukan saja melalui tulisan, puisi, buku, apalagi setajuk proposal! Perjuangan butuh keringat, pekikan suara, dan dentuman kata-kata. Kita bukan melawan seekor siput tapi buaya yang akan menerkam jika kita lengah. Hutan rimba mengajariku untuk tidak mudah percaya pada mulut-mulut manis. Hutan rimba mendidikku untuk tidak terlalu yakin dengan janji. Aku sudah hapal mana tabiat srigala dan mana watak kelinci. Kalau kau baca tulisanku, mustinya kau bisa meyakini, kalau kekuasaan hanya bisa bertahan selama kita mematuhinnya. Kekuasaan bisa bertahan selama mereka mampu menebar ketakutan. Dan aku sejak dulu dididik untuk selalu sangsi dan curiga pada penguasa!&lt;br /&gt;Kalau aku bisa memilih, mungkin sekarang aku ingin berjalan dengan kalian. Menonton orang-orang pandai berdebat di muka televisi atau aktivis yang melacurkan keyakinannya. Ngeri aku menyaksikan orang-orang pandai yang berbohong dengan ilmunya. Sederet angka dibuat untuk membuat orang percaya bahwa si miskin makin hari makin berkurang. Menonton aktivis senior yang kini juga berebut untuk duduk jadi penguasa. Katanya: di dalam kekuasaan tidak ada suara rakyat maka kita mengisinya. Aku bilang, itulah para pembual yang yakin jika perubahan bisa muncul karena kita duduk di belakang meja. Demokrasi acapkali berangkat dari dalil yang naif seperti itu. Aku sayangnya tak lagi bisa memilih, untuk berdiri dan berbincang dengan kalian semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak muda, aku telah tuliskan puluhan karya untuk menemanimu. Dibungkus dengan sampul wajahku, yang tampak belia dan mungkin tampan, aku tuangkan pesan kepada kalian. Keberanian yang membuat kalian akan tahan dalam situasi apapun! Hutan melatihku untuk percaya kalau kemapanan, kenikmatan badaniah, apalagi kekayaan hanya menjadi racun bagi tubuh kita. Kemapanan membuat otakmu makin lama makin bebal. Kau hanya mampu mengunyah teori untuk disemburkan lagi. Kemapanan membuat hidupmu seperti seekor ular yang hanya mampu berjalan merayap. Kekayaan akan membuat tubuhmu seperti sebatang bangkai. Hutan melatihku untuk menggunakan badanku secara penuh. Kakiku untuk lari kencang bila musuh datang dan tanganku untuk mengayun pukulan jika aku diserang. Anak muda, nyali sama harganya dengan nyawa. Jika itu hilang, niscaya tak ada gunanya kau hidup!&lt;br /&gt;Keberanian itu seperti sikap keberimanan. Jika kau peroleh keberanian maka kau memiliki harga diri. Sikap bermartabat yang membuatmu tidak mudah untuk dibujuk. Hutan membuatku selalu awas dengan ketenangan, kedamaian, dan cicit suara burung. Hutan melatihku untuk sensitif pada suara apa saja. Jangan mudah kau terpikat oleh kedudukan, pengaruh, dan ketenaran. Kedudukan yang tinggi akan membuatmu seperti manusia yang diatur oleh mesin. Kutinggalkan jabatan menteri karena hidupku menjadi lebih terbatas dan ruang sosialku dipenuhi oleh manusia budak, yang bergerak kalau disuruh. Apalagi ketenaran hanya akan mendorongmu untuk selalu ingin menyenangkan semua orang, membuat lumpuh energi perlawananmu. Ingat, racun segala perubahan ketika dirimu merasa nyaman.&lt;br /&gt;Rasa nyaman yang kini kusaksikan di sekelilingmu. Anak-anak muda yang puas menjadi pekerja upahan sambil menyita tanah sesamanya. Ada anak muda yang duduk di parlemen malah minta tambahan gaji! Anak muda yang lain dengan tenaganya menyumbangkan diri untuk menjadi preman bagi kekuasaan bandit. Bahkan pendidikan hukum mereka gunakan untuk membela kaum pengusaha ketimbang orang miskin. Anak-anak muda yang banyak lagak ini memang tidak bisa dibinasakan. Mereka hidup karena ada kemiskinan, keculasan kekuasaan, dan lindungan proyek lembaga donor. Aku enggan untuk berjumpa dengan anak muda yang hanya mengandalkan titel, keperkasaan, dan kelincahan berdebat. Aku ragu apakah mereka mampu serta sanggup untuk melawan arus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arus itulah yang kini menenggelamkan nyali kita semua. Murah sekali harga seorang aktivis yang dulu lantang melawan, tapi kini duduk empuk jadi penguasa. Murah sekali harga idealisme seorang ilmuwan yang mau menyajikan data bohong tentang kemiskinan. Murah sekali harga seorang penyair yang mau rame-rame mendukung pencabutan subsidi. Aku gusar memandang negerimu, yang tidak lagi punya ksatria pemberani. Seorang kstaria yang mau hidup dalam kesunyian dan dengan gagah meneriakkan perlawanan. Tulisan adalah senjata sekaligus bujukan yang bisa menghanyutkan kesadaran perlawanan. Kau harus berani mempertahankan nyalimu untuk selalu bertanya pada kemapanan, kelaziman, dan segala bentuk pidato yang disuarakan oleh para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kauhadapi sekarang ini adalah sistem yang kuncinya tidak terletak pada satu orang. Kau berhadapan dengan dunia pendidikan yang menghasilkan ilmu tentang bagaimana jadi budak yang baik. Kau kini bergulat dengan teman-temanmu sendiri yang bosan hidup berjuang tanpa uang. Kau sebal dengan parlemen yang dulu ikut kau pilih, tetapi kini tambah membuat kebijakan yang menyudutkan rakyat. Kau perlahan-lahan jadi orang yang hanya mampu melampiaskan kemarahan tanpa mampu untuk merubah. Kau kemudian percaya kalau pemecahannya adalah melalui mekanisme, partisipasi, dan dukungan logisistik yang mencukupi. Kau diam-diam tak lagi percaya dengan revolusi. Kau yakin perubahan bisa berjalan kalau dijalankan dengan berangsur-angsur dan membuat jaringan. Gerakanmu lama-lama mirip dengan bisnis MLM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku yang baik! Hukum perubahan sosial sejak dulu tidak berubah. Kau perlu dedikasikan hidupmu untuk kata yang hingga kini seperti mantera: lawan! Lawanlah dirimu sendiri yang mudah sekali percaya pada teori perubahan sosial yang hanya cocok untuk didiskusikan ketimbang dikerjakan. Lawanlah pikiranmu yang kini disibukkan oleh riset dan penelitian yang sepele. Kemiskinan tak usah lagi dicari penyebabnya tapi cari sistem apa yang harus bertanggung jawab. Ajak pikiranmu untuk membaca kembali apa yang dulu kukerjakan dan apa yang sekarang dikerjakan oleh gerakan sosial di berbagai belahan dunia. Gabungkan dirimu bukan dengan LSM, tapi bersama-sama orang miskin untuk bekerja membuat sistem produksi. Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dihimpun dari &lt;a href="http://www.resistbook.or.id/"&gt;http://www.resistbook.or.id&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-6633592727531257056?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/6633592727531257056/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=6633592727531257056' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6633592727531257056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6633592727531257056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/surat-dari-che-guevara-untuk-kawan.html' title='Surat dari Che Guevara, untuk Kawan-kawan Muda'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-5163184848965704963</id><published>2008-01-01T13:39:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T16:49:19.245+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bahasa'/><title type='text'>Kata dalam 1000 Makna</title><content type='html'>Manakah dari salah satu bahasa ini yang terasa lembut saat terucap dan anggun bila didengar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;English--Happy New Year&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Russian--с новым годом&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Japan/Nippon--明けましておめでとう&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Korean--새해 복 많이 받으세요&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chinnese--新年好&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portuguese--Ano Novo feliz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;German--Gutes Neues Jahr&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greek--καλή χρονιά&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Italian--nuovo anno felice&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spainsh--feliz año nuevo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dutch--gelukkig nieuw jaar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;French--bonne année&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia--Selamat Tahun Baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arab--سنة جديدة سعيدة&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-5163184848965704963?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/5163184848965704963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=5163184848965704963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5163184848965704963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5163184848965704963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2008/01/kata-dalam-1000-makna.html' title='Kata dalam 1000 Makna'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-1431229557889445513</id><published>2007-12-30T17:21:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T16:37:54.458+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Anjing di jalanan</title><content type='html'>&lt;em&gt;Jika Anjing dapat berlari dan mengejar kenapa aku harus duduk dan terdiam?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Maka pergerakan akan kemanusiaan terhenti seketika &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Untuk meihat pertunjukan anjing di jalanan&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Haruskah aku hanya melihat kenapa aku tidak tenggelam&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Suara ku habis" teriak tapi bukan teriak&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tiada jawab dari keasingan diri&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Tunggu aku" terasa kering dikerongkonganku&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;revolusi menunggu waktu dan aku hanyalah duduk dan melihat&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-1431229557889445513?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/1431229557889445513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=1431229557889445513' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1431229557889445513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/1431229557889445513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2007/12/anjing-di-jalanan.html' title='Anjing di jalanan'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-7888852317359248221</id><published>2007-12-28T21:00:00.001+07:00</published><updated>2008-01-11T13:57:42.743+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>SEKOLAH GRATIS</title><content type='html'>Rangkaian artikel dari "Kelinci Percobaan Menteri Pendidikan"&lt;br /&gt;Konsep sekolah gratis hanyalah sebuah impian di negeri yang semakin individualis ini. Saat nyata sekali, yang namanya gratis di INDONESIA pasti tetaplah memBAYAR. Kompas 2 mingguan yang lalu mengungkapkan bahwa dari penelitian yang dilakukan oleh BADAN PENELITIAN dan PENGEMBANGAN DEPDIKNAS ke beberapa sekolah yang sudah "digratiskan", kenyataannya masih ada sejumlah komponen yang harus dibayar.&lt;br /&gt;Sebagai contoh dalam hasil studi tersebut mengungkapkan orang tua siswa sekolah dasar/sederajat rata2 harus mengeluarkan Rp 1,535 juta pertahun(Alat tulis &amp;amp; buku-&gt;Rp 223.000, pakaian &amp;amp; perlengkapan sekolah-&gt;Rp 323.000, Transportasi-&gt;Rp 273.000, uang saku-&gt;Rp 433.000, dan iuran sekolah-&gt;Rp 234.000). Sedang untuk Orang tua sekolah menengah pertama/sederajat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar yaitu rata2 Rp 1,896 juta(Alat tulis &amp;amp; buku-&gt;Rp 224.000, pakaian &amp;amp; perlengkapan sekolah-&gt; Rp 333.000, transportasi-&gt;Rp 308.000, karyawisata-&gt;Rp 61.000, dan iuran sekolah-&gt;Rp 399.000). Besar biaya itu belum termasuk akomodasi, konsumsi, dan kesehatan.&lt;br /&gt;Itu barulah angka yang sangat kasar dan sedikit aneh. Terlihat pada uang saku dan iuran sekolah. Apa yang terjadi di kehidupan nyata seorang anak yang mengalami mobilitas pastilah menginginkan sesuatu yang lebih besar, termasuk di uang saku. Serta adat dan istiadat setiap sekolah khususnya sekolah di kota, semakin bertambahnya tahun semakin besar pula iuran yang ditawarkan. Banyak alasan untuk menguatkan, yaitu semakin mahalnya harga sembako. Lalu untuk karyawisata pada sekolah menengah pertama tidak mungkin hanya sebesar yang telah disebut. Jika kita kalikan 3 (masa pembelajaran di SMP) itu saja tak mungkin untuk mencukupinya.&lt;br /&gt;Kemudian itu yang namanya "sekolah gratis" yang ditawarkan para penjabat di atas. Mana yang gratis? Yang gratis adalah jika siswa mau buang hajat silahkan di toilet, dijamin yang gratis tak akan dipungut retribusi. Apa mungkin di kamus para pemikir bangsa tidak ditemukan kata "GRATIS", atau ada dengan arti yang lain yaitu "pembebanan dalam APBN"? Lalu bagaimana dengan para anggota DPR yang ngotot untuk dianggarkannya biaya renovasi rumah dinas anggota DPR yang bermilyar-milyar rupiah, apakah itu merupakan faktor penting dalam penyusunan APBN?&lt;br /&gt;Yang membuat geli lagi bahwa data itu dapatkan dari salah satu instrumen di DEPDIKNAS. Jadi dapat disimpulkan bahwa DEPDIKNAS hanya bisa menunjukkan data tanpa ada solusi. Inilah wajah asli pemerintahan negeri kita.&lt;br /&gt;Dalam mengukur HDI(Human Development Index / Index Pembangunan Manusia) yang digunakan adalah tiga indikator penting, yaitu panjang usia, pendidikan, dan standar hidup. Dari sini yang saya dapat simpulkan dari ketiga indikator tersebut adalah pada titik pendidikan. Jika di Indonesia pendidikan menjadi momok penting maka kita dapat mencapai standar hidup yang mencukupi lalu dengan standar hidup yang baik maka juga akan mempengaruhi tingkat pembebanan pikiran orang yang akan berpengaruh pada panjang usia hidup kita. Sekarang untuk Indonesia sendiri dalam HDI menduduki urutan ke 107 dari 170 negara anggota PBB. Posisi yang jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura(25), Malaysia(63), Thailand(78). Kenapa kau Indonesia, dimana kejantananmu yang dahulu?&lt;br /&gt;Di sinilah kecerdasan bangsa kita harus kita tingkatkan. Karena menurut data menunjukkan, dari seluruh penduduk Indonesia, jumlah penduduk yang tidak/belum tamat SD 63.855.491(35,29 persen). Jumlah penduduk yang tamat SD saja 61.917.997(34,22persen); yang tamat sampai SMP saja 24.545.352(13,57 persen); hingga yang tamat sampi SMA 25.302.149(13,98 persen). Adapun yang lulus program diploma 1,32 persen dan yang lulus S-1 1,80 persen.&lt;br /&gt;Apakah kita malu? Saya yakin di hati kita tidak akan malu karena kita tidak termasuk dalam data yang di atas, tetapi yang berada di sana juga adalah salah satu bagian dari INDONESIA.&lt;br /&gt;Sekola Gratis adalah kebutuhan wajib bangsa Indonesia. Bangsa yang besar bukan saja bangsa yang menghargai sejarah tetapi yang sadar akan pendidikan bagi bangsanya. Belum terlambat bagi Presiden merubah rancangan RAPBN 2008 dengan meninggikan anggaran Pendidikan. Tetapi yang sangat disayangkan Menteri yang menangani langsung setengah-setengah dalam bertindak serta berkata. Dan saya masih sangsi ini akan terealisasikan pada kabinet sekarang ini?&lt;br /&gt;Wujud sekolah gratis juga bukan hanya program kejar paket. Karena inti dari pendidikan adalah proses pembelajaran yang dapat membentuk sikap, moral, budi dan serta menambah ilmu yang dapat diterapkannya dalam kehidupan, bukan ijazah yang hanya berbentuk kertas hitam di atas putih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-7888852317359248221?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/7888852317359248221/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=7888852317359248221' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/7888852317359248221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/7888852317359248221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2007/12/sekolah-gratis-bukan-bayar.html' title='SEKOLAH GRATIS'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-6626855651895273677</id><published>2007-12-28T21:00:00.000+07:00</published><updated>2008-01-07T16:31:08.477+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Jika Sekolah Gratis</title><content type='html'>rangkaian artikel dari "KELINCI PERCOBAAN MENTERI PENDIDIKAN"&lt;br /&gt;Konsep sekolah gratis hanyalah sebuah impian di negeri yang semakin individualis ini. Saat nyata sekali, yang namanya gratis di INDONESIA pasti tetaplah memBAYAR. Kompas 2 mingguan yang lalu mengungkapkan bahwa dari penelitian yang dilakukan oleh BADAN PENELITIAN dan PENGEMBANGAN DEPDIKNAS ke beberapa sekolah yang sudah "digratiskan", kenyataannya masih ada sejumlah komponen yang harus dibayar.&lt;br /&gt;Sebagai contoh dalam hasil studi tersebut mengungkapkan orang tua siswa sekolah dasar/sederajat rata2 harus mengeluarkan Rp 1,535 juta pertahun(Alat tulis &amp;amp; buku-&gt;Rp 223.000, pakaian &amp;amp; perlengkapan sekolah-&gt;Rp 323.000, Transportasi-&gt;Rp 273.000, uang saku-&gt;Rp 433.000, dan iuran sekolah-&gt;Rp 234.000). Sedang untuk Orang tua sekolah menengah pertama/sederajat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar yaitu rata2 Rp 1,896 juta(Alat tulis &amp;amp; buku-&gt;Rp 224.000, pakaian &amp;amp; perlengkapan sekolah-&gt; Rp 333.000, transportasi-&gt;Rp 308.000, karyawisata-&gt;Rp 61.000, dan iuran sekolah-&gt;Rp 399.000). Besar biaya itu belum termasuk akomodasi, konsumsi, dan kesehatan.&lt;br /&gt;Itu barulah angka yang sangat kasar dan sedikit aneh. Terlihat pada uang saku dan iuran sekolah. Apa yang terjadi di kehidupan nyata seorang anak yang mengalami mobilitas pastilah menginginkan sesuatu yang lebih besar, termasuk di uang saku. Serta adat dan istiadat setiap sekolah khususnya sekolah di kota, semakin bertambahnya tahun semakin besar pula iuran yang ditawarkan. Banyak alasan untuk menguatkan, yaitu semakin mahalnya harga sembako. Lalu untuk karyawisata pada sekolah menengah pertama tidak mungkin hanya sebesar yang telah disebut. Jika kita kalikan 3 (masa pembelajaran di SMP) itu saja tak mungkin untuk mencukupinya.&lt;br /&gt;Kemudian itu yang namanya "sekolah gratis" yang ditawarkan para penjabat di atas. Mana yang gratis? Yang gratis adalah jika siswa mau buang hajat silahkan di toilet, dijamin yang gratis tak akan dipungut retribusi. Apa mungkin di kamus para pemikir bangsa tidak ditemukan kata "GRATIS", atau ada dengan arti yang lain yaitu "pembebanan dalam APBN"? Lalu bagaimana dengan para anggota DPR yang ngotot untuk dianggarkannya biaya renovasi rumah dinas anggota DPR yang bermilyar-milyar rupiah, apakah itu merupakan faktor penting dalam penyusunan APBN?&lt;br /&gt;Yang membuat geli lagi bahwa data itu dapatkan dari salah satu instrumen di DEPDIKNAS. Jadi dapat disimpulkan bahwa DEPDIKNAS hanya bisa menunjukkan data tanpa ada solusi. Inilah wajah asli pemerintahan negeri kita.&lt;br /&gt;Dalam mengukur HDI(Human Development Index / Index Pembangunan Manusia) yang digunakan adalah tiga indikator penting, yaitu panjang usia, pendidikan, dan standar hidup. Dari sini yang saya dapat simpulkan dari ketiga indikator tersebut adalah pada titik pendidikan. Jika di Indonesia pendidikan menjadi momok penting maka kita dapat mencapai standar hidup yang mencukupi lalu dengan standar hidup yang baik maka juga akan mempengaruhi tingkat pembebanan pikiran orang yang akan berpengaruh pada panjang usia hidup kita. Sekarang untuk Indonesia sendiri dalam HDI menduduki urutan ke 107 dari 170 negara anggota PBB. Posisi yang jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura(25), Malaysia(63), Thailand(78). Kenapa kau Indonesia, dimana kejantananmu yang dahulu?&lt;br /&gt;Di sinilah kecerdasan bangsa kita harus kita tingkatkan. Karena menurut data menunjukkan, dari seluruh penduduk Indonesia, jumlah penduduk yang tidak/belum tamat SD 63.855.491(35,29 persen). Jumlah penduduk yang tamat SD saja 61.917.997(34,22persen); yang tamat sampai SMP saja 24.545.352(13,57 persen); hingga yang tamat sampi SMA 25.302.149(13,98 persen). Adapun yang lulus program diploma 1,32 persen dan yang lulus S-1 1,80 persen.&lt;br /&gt;Apakah kita malu? Saya yakin di hati kita tidak akan malu karena kita tidak termasuk dalam data yang di atas, tetapi yang berada di sana juga adalah salah satu bagian dari INDONESIA.&lt;br /&gt;Sekola Gratis adalah kebutuhan wajib bangsa Indonesia. Bangsa yang besar bukan saja bangsa yang menghargai sejarah tetapi yang sadar akan pendidikan bagi bangsanya. Belum terlambat bagi Presiden merubah rancangan RAPBN 2008 dengan meninggikan anggaran Pendidikan. Tetapi yang sangat disayangkan Menteri yang menangani langsung setengah-setengah dalam bertindak serta berkata. Dan saya masih sangsi ini akan terealisasikan pada kabinet sekarang ini?&lt;br /&gt;Wujud sekolah gratis juga bukan hanya program kejar paket. Karena inti dari pendidikan adalah proses pembelajaran yang dapat membentuk sikap, moral, budi dan serta menambah ilmu yang dapat diterapkannya dalam kehidupan, bukan ijazah yang hanya berbentuk kertas hitam di atas putih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-6626855651895273677?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/6626855651895273677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=6626855651895273677' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6626855651895273677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6626855651895273677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2007/12/rangkaian-artikel-dari-kelinci.html' title='Jika Sekolah Gratis'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-6660159157956297289</id><published>2007-12-28T11:52:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T16:46:55.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sastra'/><title type='text'>Aku Tetaplah Seorang ********</title><content type='html'>Bahkan hotel prodeo pun lebih nyaman daripada rumah!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-6660159157956297289?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/6660159157956297289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=6660159157956297289' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6660159157956297289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/6660159157956297289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2007/12/aku-tetaplah-seorang.html' title='Aku Tetaplah Seorang ********'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-5928692349022890544</id><published>2007-12-11T14:46:00.000+07:00</published><updated>2008-01-05T15:50:51.389+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kelinci Percobaan Menteri Pendidikan</title><content type='html'>Kelinci Percobaan Menteri Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yogyakarta, 11 Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pernakah Anda menjadi sebuah kelinci bahkan tikus percobaan para menteri pendidikan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ku menjawab, &lt;strong&gt;"SELALU"&lt;/strong&gt; !!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ku telah menjadi kelinci bahkan tikus selama kurang lebih 11 tahun!! Kenapa bisa? Karena aku masuk pada sistem yang selalu berubah-ubah layaknya eksperimen yang selalu gagal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bergembiralah bagi yang telah lepas dari sistem yang ancur ini. Dan yang masih didalamnya, dikuatkan hatinya dan raganya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saya beranggapan ini merupakan suatu pelanggaran hak asasi, dimana sebagai seorang pelajar kita tidak bisa dijadikan tikus percobaan dalam pembentukan sisitem pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiap tahun tangis orang tua menjerit. Beban pikiran pelajar bertambah. Dikarenakan diberlakukannya sisitem pendidikan yang baru. Saya ingin bilang, " &lt;strong&gt;Kami seorang pelajar bukanlah barang dagangan atau mainan bagi yang &lt;em&gt;diatas&lt;/em&gt;. Kami bukan merupakan lahan proyek yang dapat mendatangkan laba untuk mengisi perut-perut besarmu!!. Kami adalah pelajar yang berkewajiban menuntut ilmu tanpa beban pikiran, tanpa uang, demi tercapaonya cita-cita kami!!&lt;/strong&gt;"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Indonesia telah menjadi boneka. Indonesia, ku pikir tidak seberani yang dahulu. Komitmen Indonesia dibidang pendidikan tidak di atas, tetapi ditengah-tengah. Jadi dalam pengembangannya Indonesia tidak begitu memikirkan persoalan pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ditambah lagi &lt;strong&gt;kesalahan besar&lt;/strong&gt; Presiden dalam menentukan &lt;strong&gt;kedudukan Menteri Pendidikan. &lt;/strong&gt;Menteri Pendidikan diberi kewenangan untuk menerapka sisitem pendidikan yang baik di Indonesia, tetapi ini bukan jadi alasan Menteri untuk ganti sistem setiap tahunnya. Menteri Pendidikan bukanlah yang harus bergelar Prof. lah, M.M lah, M.Sc lah, Drs. lah, tetapi yang paham akan maslah kependidikan di Indonesia. Kami sebagai pelajar bukan butuh menteri yang bergelar, tetapi menteri yang mengerti dan tahu solusi masalah pendidikan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Waktu saya duduk dikelas 2 SMP(sekarang kelas 8), sistem KBK sedang maraknya disosialisasikan. Guru saya menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan seseorang dan bercerita mengenai kurikulm KBK yang bahwasanya kurikulum yang diterapkan di Amerika dan sudah lama ditinggalkan. Yang menjadi garis besar jika di Amerikan telah ditinggalkan kenapa Indonesia baru mau menerapkan. Kenapa tidak yang sekarang digunakan Amerika saja. Inilah dalam hatiku yang dulu menyeletuk, yang bikin kurikulum seperti badut, jadi leluconnya sudah enggak menarik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bersambung...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-5928692349022890544?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/5928692349022890544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=5928692349022890544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5928692349022890544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/5928692349022890544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2007/12/kelinci-percobaan-menteri-pendidikan.html' title='Kelinci Percobaan Menteri Pendidikan'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3848228369417839598.post-2103044550885280264</id><published>2007-11-09T19:32:00.000+07:00</published><updated>2007-11-10T19:37:54.673+07:00</updated><title type='text'>First word in my blog</title><content type='html'>Namaku &lt;strong&gt;Raditya Hari Saksana&lt;/strong&gt;. Kebayakan orang terbiasa memanggilku &lt;strong&gt;Hari&lt;/strong&gt;. Selain itu orang sering menyapaku dengan nama &lt;strong&gt;Gontenk&lt;/strong&gt; (nama hewan sejenis insect berkepala besar). Aku dilahirkan 22 Februari 1991. Terlahir dengan nasib seorang laki-laki. Menjalani masa kecil yang tidak begitu mengenakkan.&lt;br /&gt;Terlahir juga di zaman yang jahiliyah menurutku. Di mana semua manis di lidahku dan semua lidah orang Indonesia adalah pahit yang harus di telan menta-mentah hingga sekarang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3848228369417839598-2103044550885280264?l=gontenk.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gontenk.blogspot.com/feeds/2103044550885280264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=3848228369417839598&amp;postID=2103044550885280264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2103044550885280264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3848228369417839598/posts/default/2103044550885280264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gontenk.blogspot.com/2007/11/first-word-in-my-blog.html' title='First word in my blog'/><author><name>Raditya Hari</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09967013359192413040</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
