--Hingga tanah yang merah menyisir jenuh. Tak ada tenda membiru, kerumunan menjadi kosong sehembus angin, hangat. Di antara dua bongkah liat, bocah tengik lusuh layu, hening.
--Suara-suara surga menjahit langit. Terucap salam harapan dari kerumunan akan keridhoan. Namun dia, bocah tengik lusuh layu, berbeku rupa.
--"Tunggu aku Bunda, meski neraka jalanku dahulu!", terhusap papan kayu bongkahan liat. Bocah tengik berdiri tegak menantang mendung.
--"Mereka, keduanya, mati dalam agamaMu, Tuhan, bukan yang lain. Tiada nista diantaranya. Aku, sekarang, yatim pula piatu. Demi apa yang Engkau gariskan padaku, lapangkan kubur bagi mereka. Pada surga berkelok sungaiMu, abadikan mereka padanya." menatap tajam dua gunduk liat.
--"Dan Bunda, aku ingin dewasa!!" Edelwise mengabu sebagian sisi menghias indah liat. Lari dia, jauh, untuk edelwise yang terjatuh. Tak lagi asing bagi kerumunan.
--Matahari jenuh melingkar bumi, merah saga. Bukan henti yang bocah tengik cari namun zenit dari tubuhnya. "Tuhan, aku ingin dewasa!", menguap teriak bocah tengik terbawa angin darat.
[get this widget]
Mozaik doa bagi dua bongkah liat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar