Mozaik pukul 5

--dari sekumpulan anjing, aku berdiri diantara pangkal tiang listrik. Menunggu mendung yang aku dapat kabar dari Tuhan akan datang sore ini pukul 5.

--16.13 sudut kanan bawah layar hpku terukir, "2820 detik, aku telah menghitungnya, 2820 detik", membanting hp dilubang kantong kiri jeans lusuh. Terhitung detik menuju menit.

--Mawarku hitam di segala rupa, yang ku bawa, telah mati dari bumi. Tidak ada lagi mawar bagi hujan, tidak lagi ada merah dalam darah lembam.

--yang kutahu bau menyengat ini bukan dari tong2 sampah yang aku duduki bersama anjing-anjing kurang gizi ini. Arah jam 5, menggebu asap dari toko seberang, toko milik Kong Hook Kian, " Ini bukan mendung yang ku inginkan!" melesat sudah ribuan ton asap yang terpaksa angin tuk dibawanya. " Kasihan kau",.

--16.47, " Sial, siapa yang menyulut asap? aku sedang menunggu mendung!! Tak tahu aku mana mendung mana asap!! Tuhan, wahai Tuhan, mana mendung yang aku inginkan!!", aku berdiri, 3-4 anjing kaget dengan gerakan ku,. . .

--Sebagian dari anjing menyahut dan mengendus, ku tahu anjing-anjing ini akan mendapatkannya. Air, tetesan air, ini hujan bukan mendung.

--"Sial, kenapa hujan bukan mendung! Siapa yang memesan hujan kepada Tuhan?! Aku sendiri memesan mendung?! Tuhan, mana mendung yang ku inginkan, bahkan yang ada asap dari kayu-kayu Kong Hook Koian. . .", aku masih tetap berdiri dari tong-tong sampah berkerumun anjing, " . . . Tuhan, aku telah basah kuyup. . . aku telah basah dari hujan yang Kau turunkan. . . Untuk siapa hujan ini Kau buat?

--Gonggongan anjing, tidak membuat lebih merasa kaget. Semua anjing telah turun ke darat, menjilat-jilat air tampungan beton. Jantungku membeku sepersekian detik, dari arah rumah Kong Hook Kian, asap mulai lama menitih lesu. Terhunus ribuan tetes hujan. Yang kutahu merah kuning menjadi abu.

--16.58 "Tuhan, maafkan diriku yang telah menuduh Engkau, hujan sore hampir pukul 5, kau buat bukan hanya untuk anjing-anjing yang kehausan dan juga pula bukan untuk meremukkan asap rumah Kong Hook Kian tetapi juga untuk diriku. Telah kau sadarkan keegoisanku sore ini. Ku berikan ini tanda terima kasihku. . ."

--Setangkai mawar hitam tergeletak diatas penutup-penutup tong sampah. Salam penghormatan terakhir diberikan bocah tengik itu yang merindukan mendung. Pualng ia bersama hujan tepat pukul 5 sore.

[get this widget]

0 komentar: