-- Untuk semua coretan atas nama persekutuan pada tembok, dia, si bocah tengik, menuntun tangannya mendekap dada, rasa sesak menghujam jantung dan sebentar lagi dari vena akan menjejal darah hitam. Hujan dari jam 5 sore tak lelah membusur pertiwi. "Huhs. . .huhs . . .huhs . .huhs", setiap hempasan pajang menghalau beku.
--Tersudut, menggigil, "Tuhan, jika kau turunkan pula salju malam ini, aku akan siap, aku siap . . ., hatiku lebihlah dingin dari saljuMu", menyempitkan lagi kedua tangan pada dada. Bagi putra alam, hujan kali ini, sekian kali lebih menghinanya. Yang telah basah akan kembali basah.
-- Selurus tembok beribu nama, 2 bocah melebihi lusuh namun tak melebihi tengik, " Tuhan, hentikan hujan, kami lelah menunggu reda, atau kalau tidak berikan yang lebih hangat daripada kardus basah ini,", pelan, khidmat, persuasif terucap dari tertua. Perisai hujannya telah menyatakan kalah, namun kantuk tiada berkomplot dengan dingin menyeruak menyerang bertubi.
-- "Aku bukan Tuhan, bukan pula malaikat," melepas kaus tertempel badan mengambil sebungkus alumunium voil ," . . . ini yang ku punya, lebih hangat dari kardus basah dan ini, sisa coklat, hangatkan mulut dan perutmu!!"
"Lalu . . ."
"Diam, aku dengar doa kalian, aku telah bersaksi kepada Tuhan bahwa aku akan siap meskipun ini salju!!"
-- Pulang sudah bocah tengik bertelanjang dada. Mencoba tegak bahkan tegap dibalik sayu-sayu lampu lima watt.
-- Terdengar lirih suara-suara surga, namun mendekat keraslah sudah. "Apaan ini, di rumahku, apa yang mereka tunggu dari rumahku," kencang ingin dia berlari kencang menjawab nafsunya. Berhenti, tepat berhenti, pada bendera berlambang suci, garis terdepan bangku-bangku plastik.
-- "Singkirkan tanganmu, aku kotor buat kalian yang bersih, kenapa kalian ke sini? kenapa juga kalian tangisi kedatanganku?", menyingkarkan tangan mencoba memasuki rumahnya. Satu peti mati terbujur pada tengah ruang dikelilingi pelayat berkerudung hitam, setumpuk buku Yasiin. Beku, mulutnya melebihi beku, matanya lebih lebam merah, ini bukan tangis. Langkah berat bocah tengik mengagetkan pelayat. Berhenti sudah suara-suara surga.
-- "Kembali kau . . .," tangannya menyela seorang pelayat sekaligus paman si Tengik. "Diam! aku ingin tenang disamping Ibundaku!"
-- Tak ada air mata, hanya mata lebam seluruh merah, bukan dingin menyelimut, hanya hangat dari dada. Menyisir ruas-ruas rambut, membelai pipi hingga bibir, mencari kehangatan terakhir dari Ibunda.
" Sejak kematian Ayah, aku berjanji takkan lagi menangis, Ibunda aku ingin menjadi dewasa, takkan aku tangisi kepergian Ibunda!", mendekap lebih dalam tangan Ibunda.
-- Berlari sudah bocah tengik keluar jauh semakin jauh dari rumah. Maka hujan lebihlah keras, pada dada telanjang tetaplah berlari. Seluruhnya gelap, pada bukit itu, semua tetaplah hitam. " Tuhan, aku datang pada tempat yang paling tinggi dari yang tinggi hanya ingin Engkau menepati janjiku ini, . . .", keras lantang, menahan ribuan lelah," . . . aku yang telah Engkau buat diriku sebagai yatim piatu sekarang, tempatkanlah Ibundaku, Ibunda yang aku cintai, tempat terindah dari yang terindah dari yang Engkau miliki, surga para NabiMu."
-- Suara-suara mengesakan Tuhan, sahut-menyahut. Kedamaian shubuh, menahan hujan kali ini berhenti. Diam, dia diam, mencoba menerka jawaban atas Tuhan. Diam dari seribu gerak hingga fajar menyingsir, hangat untuk mata yang lebam merah. Perlahan terlihat hamparan Edelwise bermandikan kilauan mentari. Bocah itu tersenyum. "Setangkai Edelwise, kuberikan kepada Ibunda, dariku sebagai penghormatan terakhir", lirih terdengar dari mulut bocah tengik bertelanjang dada.
[get this widget]
Mozaik bocah bertelanjang dada
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar