Ku berhenti pada perempatan dengan traffic yang terkenal padatnya. Saat itu merah menyala keras. Dua lelaki kecil, menggunakan kaos lusuh dan celana panjang lusuh juga, dan yang satu lagi mengunakan baret hijau dimana salah satu sudutnya berlubang.
Datang lelaki kecil pertama itu ke pengandara sampingku lalu berjalan ke arahku. Selembar kertas putih tertempel di kerdus kecil yang tidak salah bertuliskan "untuk buka puasa ramadhan". Ia sodorkan dengan rona wajah memelas.
"Woi, jangan pergi jauh-jauh, tadi ada satpol-pp!", bocah kecil itu teriak ke lelaki kecil berbaret, saat akan menyodorkan kardus itu kepadaku.
Terhenyuh dada yang penuh asap cigaret ini. Ada rasa ganjal diperasaanku. Timbul satu pertanyaan,"Inilah kerasnya dunia, yang telah mendewasakan pikiran seorang bocah kecil akan kerasnya hidup di jalanan." Bocah itu seakan telah akrab dengan hukum yang tidak berkeadilan dengan nasibnya. Sudah mengerti mana itu petugas mana itu manusia biasa.
Inikah Indonesia, yang telah merampas hak-hak bocah2 untuk hidup dalam selimut kedua orang tuanya dalam malam, bermain dan berlajar saat esok hingga senja. Saat norma-norma teoritis yang seharusnya diberikan kepada mereka, agar kelak generasinya menjadi generasi pencerahan untuk Indonesia yang dapat saling enghargai arti kehidupan.
[get this widget]
dua lelaki diperempatan jalan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar