Jika Soekarno Masih Hidup

Kharisma beliau tidaklah redup walaupun raga telah terkikis waktu. Hingga saat ini gemuruh pendukung Soekarno pun masihlah banyak dan tersebar di seluruh Nusantara. Para aktivis muda banyak yang meniru perjalanan politik Soekarno. Sepertinya gaungnya takkan pernah redup!!

"Ini dadaku, mana dadamu?

Kalau Malaysia mau konfrontasi ekonomi

Kita hadapi dengan konfrontasi ekonomi

Kalau Malaysia mau konfrontasi politik

Kita hadapi dengan konfrontasi politik

Kalau Malaysia mau konfrontasi militer

Kita hadapi dengan konfrontasi militer"

Banyak yang tidak tahu akan pernyataan tersebut. Sudah 43 tahun suara itu lenyap ditelan ibu pertiwi. Tapi sejarah rajin untuk mencatat. Dwikora, tepatnya.

Maju pertama dalam barikade pejuang, bersuara lantang diantara ribuan rakyat dan tentara. Untuk Indonesia, bukan untuk negara lain.

Memang Indonesia sebegitu berani zaman itu. Sulutan apinya telah membuat kita bangga akan negeri sendiri. Kita telah berani dan sejajar dengan negeri yang lain.

Tapi sekarang kejadiaannya suduh berbeda.

Meski konfrontasi atau perang dengan Malaysia tidak pernah benar benar terjadi, namun perasaan tidak bersahabat itu terus membayangi bagai api dalam sekam. Api itu begitu mudah tersulut oleh beberapa kejadian seperti penganiayaan TKI , perebutan Blok Ambalat, penyiksaan Donald Pieter Luther ketua Tim Wasit karate Indonesia dan yang terakhir pengambilan hak paten atas kebudayaan roeg Ponorogo. Kita merasa terus terusan dilecehkan namun permintaan maaf yang kita harapkan terasa berat untuk diberikan.

Siapa yang tidak marah akan ini semua? Memang rakyat tidak begitu tahu dan jelas masalah yang terjadi, tapi sebagai orang yang mencintai negara harkat dan martabat Indonesia seperti dilecehkan.

Seandainya saja Bung Karno masih ada, tentu dia akan tanggap terhadap luka dan kemarahan yang dialami oleh rakyatnya. Dia tidak akan sembunyi dibalik kemewahan istana, tapi justru turun memimpin dan menyuarakan kegelisahan rakyatnya.

Tidak ada presiden yang selantang Soekarno, SBY yang besar tidak dapat bersuara lantang. Mana rakyatmu dan mana presidenku?

[get this widget]

0 komentar: