Rangkaian artikel dari "Kelinci Percobaan Menteri Pendidikan"
Konsep sekolah gratis hanyalah sebuah impian di negeri yang semakin individualis ini. Saat nyata sekali, yang namanya gratis di INDONESIA pasti tetaplah memBAYAR. Kompas 2 mingguan yang lalu mengungkapkan bahwa dari penelitian yang dilakukan oleh BADAN PENELITIAN dan PENGEMBANGAN DEPDIKNAS ke beberapa sekolah yang sudah "digratiskan", kenyataannya masih ada sejumlah komponen yang harus dibayar.
Sebagai contoh dalam hasil studi tersebut mengungkapkan orang tua siswa sekolah dasar/sederajat rata2 harus mengeluarkan Rp 1,535 juta pertahun(Alat tulis & buku->Rp 223.000, pakaian & perlengkapan sekolah->Rp 323.000, Transportasi->Rp 273.000, uang saku->Rp 433.000, dan iuran sekolah->Rp 234.000). Sedang untuk Orang tua sekolah menengah pertama/sederajat harus mengeluarkan biaya yang lebih besar yaitu rata2 Rp 1,896 juta(Alat tulis & buku->Rp 224.000, pakaian & perlengkapan sekolah-> Rp 333.000, transportasi->Rp 308.000, karyawisata->Rp 61.000, dan iuran sekolah->Rp 399.000). Besar biaya itu belum termasuk akomodasi, konsumsi, dan kesehatan.
Itu barulah angka yang sangat kasar dan sedikit aneh. Terlihat pada uang saku dan iuran sekolah. Apa yang terjadi di kehidupan nyata seorang anak yang mengalami mobilitas pastilah menginginkan sesuatu yang lebih besar, termasuk di uang saku. Serta adat dan istiadat setiap sekolah khususnya sekolah di kota, semakin bertambahnya tahun semakin besar pula iuran yang ditawarkan. Banyak alasan untuk menguatkan, yaitu semakin mahalnya harga sembako. Lalu untuk karyawisata pada sekolah menengah pertama tidak mungkin hanya sebesar yang telah disebut. Jika kita kalikan 3 (masa pembelajaran di SMP) itu saja tak mungkin untuk mencukupinya.
Kemudian itu yang namanya "sekolah gratis" yang ditawarkan para penjabat di atas. Mana yang gratis? Yang gratis adalah jika siswa mau buang hajat silahkan di toilet, dijamin yang gratis tak akan dipungut retribusi. Apa mungkin di kamus para pemikir bangsa tidak ditemukan kata "GRATIS", atau ada dengan arti yang lain yaitu "pembebanan dalam APBN"? Lalu bagaimana dengan para anggota DPR yang ngotot untuk dianggarkannya biaya renovasi rumah dinas anggota DPR yang bermilyar-milyar rupiah, apakah itu merupakan faktor penting dalam penyusunan APBN?
Yang membuat geli lagi bahwa data itu dapatkan dari salah satu instrumen di DEPDIKNAS. Jadi dapat disimpulkan bahwa DEPDIKNAS hanya bisa menunjukkan data tanpa ada solusi. Inilah wajah asli pemerintahan negeri kita.
Dalam mengukur HDI(Human Development Index / Index Pembangunan Manusia) yang digunakan adalah tiga indikator penting, yaitu panjang usia, pendidikan, dan standar hidup. Dari sini yang saya dapat simpulkan dari ketiga indikator tersebut adalah pada titik pendidikan. Jika di Indonesia pendidikan menjadi momok penting maka kita dapat mencapai standar hidup yang mencukupi lalu dengan standar hidup yang baik maka juga akan mempengaruhi tingkat pembebanan pikiran orang yang akan berpengaruh pada panjang usia hidup kita. Sekarang untuk Indonesia sendiri dalam HDI menduduki urutan ke 107 dari 170 negara anggota PBB. Posisi yang jauh tertinggal dibandingkan negara ASEAN lainnya, seperti Singapura(25), Malaysia(63), Thailand(78). Kenapa kau Indonesia, dimana kejantananmu yang dahulu?
Di sinilah kecerdasan bangsa kita harus kita tingkatkan. Karena menurut data menunjukkan, dari seluruh penduduk Indonesia, jumlah penduduk yang tidak/belum tamat SD 63.855.491(35,29 persen). Jumlah penduduk yang tamat SD saja 61.917.997(34,22persen); yang tamat sampai SMP saja 24.545.352(13,57 persen); hingga yang tamat sampi SMA 25.302.149(13,98 persen). Adapun yang lulus program diploma 1,32 persen dan yang lulus S-1 1,80 persen.
Apakah kita malu? Saya yakin di hati kita tidak akan malu karena kita tidak termasuk dalam data yang di atas, tetapi yang berada di sana juga adalah salah satu bagian dari INDONESIA.
Sekola Gratis adalah kebutuhan wajib bangsa Indonesia. Bangsa yang besar bukan saja bangsa yang menghargai sejarah tetapi yang sadar akan pendidikan bagi bangsanya. Belum terlambat bagi Presiden merubah rancangan RAPBN 2008 dengan meninggikan anggaran Pendidikan. Tetapi yang sangat disayangkan Menteri yang menangani langsung setengah-setengah dalam bertindak serta berkata. Dan saya masih sangsi ini akan terealisasikan pada kabinet sekarang ini?
Wujud sekolah gratis juga bukan hanya program kejar paket. Karena inti dari pendidikan adalah proses pembelajaran yang dapat membentuk sikap, moral, budi dan serta menambah ilmu yang dapat diterapkannya dalam kehidupan, bukan ijazah yang hanya berbentuk kertas hitam di atas putih.
[get this widget]
SEKOLAH GRATIS
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar